Arti Ojo Semoyo, Peredam Tabiat Suka Menunda - Ulas Bahasa -->

Arti Ojo Semoyo, Peredam Tabiat Suka Menunda

Post a Comment

Apa arti semoyo? Apa hubungannya dengan ungkapan “ojo semoyo”? Benarkah ungkapan ini mampu meredam sikap suka menunda-nunda?

 

arti semoyo atau suka menunda
Ilustrasi orang yang suka menunda-nunda. Sumber gambar: Mohamed Hassan dari Pixabay.

Kebiasaan menunda-nunda pekerjaan atau aktivitas baik lainnya merupakan salah satu “penyakit kronis” yang diderita banyak manusia. Tidak terkecuali diri saya.

Dampak paling umum dari tabiat suka menunda-nunda adalah produktivitas yang buruk. Efek-efek tidak mengenakkan lainnya bisa saja menyusul lantaran beban pekerjaan yang menggunung akibat terbengkalai sekian lama.

Ketika penyakit akut ini menyerang saya, blog “Ulas Bahasa” ini turut merasakan dampak buruknya. Blog ini acap vakum sekian lama lantaran saya belum menghasilkan konten baru untuk mengisinya.

Telah banyak orang menggagas strategi untuk “memberantas” kebiasaan buruk yang satu ini. Pelbagai pelatihan pun dibuat guna mengurangi hobi menunda-nunda pekerjaan dan hal-hal baik lainnya.

Ternyata, orang Jawa telah merangkai satu strategi yang mumpuni guna melawan kemalasan berwujud kegemaran menunda-nunda ini. Taktik jitu itu berwujud sebuah ungkapan ringkas “ojo semoyo”.

Apa Arti Semoyo dan Ojo Semoyo?

Apa sebenarnya arti semoyo itu? Apa pula maksud ungkapan “ojo semoyo”?

Ungkapan singkat “ojo semoyo” berasal dari bahasa Jawa. Kita tahu bahwa bahasa daerah ini merupakan salah satu sumber terbesar pengayaan kosakata bahasa Indonesia.

Silakan baca artikel yang mengulas potensi bahasa daerah dalam perkembangan kosakata bahasa Indonesia.

Dalam bahasa Jawa, kata ojo (dalam bahasa Jawa ditulis “aja”) berarti jangan. Sedangkan arti semoyo (dalam bahasa Jawa ditulis “semaya”) adalah ‘menunda’ atau ‘menangguhkan’.

Jadi, secara harfiah, ojo semoyo berarti ‘jangan menunda-nunda’. Ketika ada pekerjaan atau kegiatan lainnya yang bisa dilakukan, segera lakukan.

Kalimat yang bisa mewakili ungkapan ini misalnya, “Ojo semoyo! Lekas kerjakan, apa yang bisa kamu kerjakan sekarang.”

Ungkapan ojo semoyo hampir selalu dikaitkan dengan kondisi yang tidak diharapkan. Kata-kata ini memang acap berkonotasi buruk.

Biasanya orang mengidentikkan ungkapan ini dengan sifat malas. Bukankah orang malas yang gemar menunda-nunda (aktivitas yang baik)?

Sebagai contoh, saya sampaikan sebuah ilustrasi berikut ini.

Suatu malam, seorang anak usia SMP tengah rebahan dengan telepon seluler berada dalam genggaman tangannya. Mendadak ayahnya datang menghampirinya.

“Sudah kamu kerjakan PR-mu, Nak?” tanya sang ayah.

Bentar lagi, Yah,” si anak menjawab malas-malasan.

“Kenapa nggak kamu kerjakan sekarang?” tanya ayahnya lagi dengan intonasi suara meninggi.

“Tanggung, nih, Yah,” kata si anak mengelak, “Paling setengah jam lagi kelar.”

Ojo semoyo! Simpan dulu HP-mu dan cepat kerjakan sekarang PR-mu,” ucap ayahnya tegas, “Kamu nggak bakalan ngerjain PR-mu kalau sudah pegang HP!”

Itulah contoh penggunaan ojo semoyo yang berkonotasi buruk. Ungkapan ojo semoyo memang kerap ditujukan bagi orang (yang dianggap) malas.

Kabar Baik: Semaya Resmi Menjadi Warga KBBI

Belum lama ini terbetik sebuah kabar baik berkaitan dengan ungkapan ojo semoyo ini. Saya mendapatkan “berita” menggembirakan ini ketika membuka-buka kamus besar kita.

Kini, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) telah menerima kosakata ini dan mencantumkannya ke dalam salah satu halamannya. Dengan mengubah huruf /o/ menjadi /a/, maka resmilah semoyo diterima sebagai “penduduk” KBBI dengan menyandang nama ‘semaya’.

Silakan baca tulisan yang membahas beberapa kosakata yang berasal dari bahasa daerah, yakni daria, sempena, dan jatukrama.

Menurut bausastra Indonesia ini, kata semaya artinya ‘menunda’ atau ‘minta penangguhan’. Jadi, dalam bahasa Indonesia, arti kata semaya tidak berbeda dengan makna kata semoyo dalam bahasa aslinya.

Itulah arti semoyo yang berasal dari bahasa Jawa dan telah diserap oleh KBBI menjadi kata semaya.

Artikel Terkait

Post a Comment