Rabu, 27 Januari 2021

Antara Istilah Toleransi dan Tolerir, Mana yang Benar?

 

Ilustrasi istilah toleransi

Istilah toleransi kembali bergema di bumi Indonesia belakangan ini. Urusan seragam sekolah di daerah Sumatra Barat menjadi salah satu pemicunya.

Keributan terjadi antara pejabat sekolah dengan orang tua siswa di sekolah itu. Peristiwa yang direkam dalam bentuk video dan ditayangkan secara daring itu menjadi viral dan mendapat banyak tanggapan dari berbagai pihak.

Tidak heran jika kejadian itu menimbulkan kegaduhan nasional mengingat masalahnya menyangkut hal yang sangat sensitif. Suatu aturan yang mewajibkan semua siswi mengenakan jilbab, termasuk siswi non muslim, merupakan musababnya.

Dari peristiwa inilah kemudian kata toleran atau toleransi dan turunannya banyak menghias media. Lantas, sebenarnya apa makna kata toleran atau toleransi dan kata-kata turunannya?

Baca juga: Maaf, Kami Tak Pantas Meneladani Guru

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dalam kaitan dengan peristiwa ini, telah memberikan makna bagi kata toleran dan toleransi.

Menurut kamus ini, toleran berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Masih menurut kamus bahasa Indonesia itu, toleransi adalah sifat atau sikap toleran.

Dalam kasus kisruh seragam sekolah di sebuah SMK di Sumbar, banyak pihak menilai sekolah itu tidak memiliki sikap toleran. Peraturan yang mewajibkan penggunaan seragam sekolah berupa jilbab bagi semua siswa termasuk siswa yang tidak beragama Islam menjadi dasar penilaian itu.

Maka, sebagai kebalikan dari kata toleran, istilah intoleran atau intoleransi segera disematkan bagi aparat yang memimpin dan mengelola sekolah itu. Penyematan istilah ini mengindikasikan banyak orang menganggap sekolah tidak toleran atau tidak memiliki tenggang rasa.

Salah satu penilaian tentang sikap intoleran dikemukakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Saya kutip dari detik.com, Nadiem Makarim, sang menteri, menyatakan bahwa sikap sekolah tersebut merupakan bentuk intoleransi atas keberagamaan.

Kata turunan lain yang muncul dari kata toleransi adalah kata-kata bertoleransi dan menoleransi. Bertoleransi berarti bersikap toleran, sedangkan menoleransi bermakna membiarkan atau mendiamkan.

Mana Istilah yang Baku: Toleransi atau Tolerir?

Selain kata toleran dan turunannya, banyak pula orang yang lebih memilih menggunakan kata tolerir. Seperti toleran, kata ini juga menghasilkan beberapa turunan seperti menolerir atau ditolerir.

Lalu, kata apa yang sebenarnya paling tepat?

Dengan merujuk pada KBBI, kata tolerir merupakan istilah yang tidak baku dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, kata-kata turunannya juga bukan merupakan kata-kata baku dalam bahasa Indonesia.

Jadi, sudah jelas kata yang baku dan tidak baku. Alangkah baiknya kita menggunakan kata toleran atau toleransi dibandingkan kata tolerir.

Baca juga: Mengulas Kata-Kata Paling Populer Tahun 2020

Namun, masih sering terlihat adanya kebingungan orang dalam menggunakan istilah-istilah itu. Salah satu kebingungan terkait dengan urusan ini tampak pada sebuah berita yang tampil di situs bisnis.com.

Dalam sebuah warta di media daring itu, saya menemukan adanya perbedaan penggunaan istilah toleransi atau tolerir antara judul dengan isi berita.

Dengan mengangkat judul “Pandemi Bukan Alasan, Menhub Budi Tak Akan Tolerir ODOL”, ternyata penulisnya masih menggunakan kata tidak baku tolerir.

Sementara itu, dalam kalimat pembuka, penulis berita memakai istilah yang berbeda untuk mengungkapkan hal yang sama. Pada bagian ini, ia memilih untuk memakai kata menoleransi.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menegaskan tidak akan menoleransi para pelanggar kebijakan angkutan barang kelebihan muatan dan dimensi atau over dimension over load (ODOL).”

Semoga kita tidak ikut-ikutan bingung, ya.

Jadi, Anda mau menggunakan istilah yang mana, toleran (toleransi) atau tolerir?

Artikel Selanjutnya
Artikel Sebelumnya

penulis:

0 komentar: