Jumat, 01 Oktober 2021

Seorang Daria Mengikuti Sempena Kala Mencari Jatukrama

Apa makna kata-kata daria, sempena, dan jatukrama? Pernahkah Anda menemukan kalimat seperti judul tulisan ini?

daria

Saya yakin Anda belum pernah menjumpai kalimat serupa itu. Barangkali Anda pun belum memahami maknanya.

Saya pernah mengungkapkan asyiknya menggunakan kosakata langka saat merancang tulisan. Berdasarkan kegiatan itu, saya menemukan sebuah kenyataan yang menggembirakan menyangkut bahasa persatuan negara kita.

Ternyata, bahasa Indonesia memiliki banyak sekali kosakata yang amat jarang digunakan. Bahkan mungkin sebagian di antara mereka tidak pernah muncul sama sekali dalam komunikasi, baik dalam wujud lisan maupun tulisan.

Sebagian kosakata yang kesepian itu sempat menyembul dalam blog ini. Sebut misalnya kata rudin dan browser.

Sungguh merana nasib mereka. Kehadiran mereka di dunia yang fana ini sebatas menjadi penghias bausastra. Mereka tak pernah merasakan manisnya kebahagiaan ketika bisa memberikan manfaat bagi manusia.

Barangkali, kini mereka sedang bersusah hati. Sesungguhnya mereka digadang-gadang bakal menjadi salah satu wujud sarana komunikasi antar manusia. Namun “keadaan buruk” telah memaksa mereka tak sanggup mewujudkannya.

Selamatkan Daria dan Kawan-kawannya

Melihat kenyataan yang memilukan itu, saya cukup merasa gembira tatkala bisa memunculkan kata-kata yang sepanjang hidupnya “meratapi nasib terkungkung dalam penjara”. Pada saat-saat seperti itu, seakan-akan saya menjelma bak seorang pahlawan yang telah berjuang hingga sesap kopi penghabisan guna menyelamatkan sejumlah kosakata dari bahaya kepunahan yang senantiasa mengintip mereka.

Mudah-mudahan, kesempatan yang saya berikan kepada mereka untuk tampil di hadapan Anda bisa menjadi pengobat lara. Setidaknya, mereka bisa sedikit bernapas lega karena tidak selamanya terkungkung dalam kamus yang bagai penjara.

makna daria
Tangkapan layar akun IG narabahasa tentang makna kata daria

Namun tidak berarti bahwa saya akan selalu memilih kata-kata “senyap” dalam setiap karya yang saya hasilkan. Dalam menggunakan kosakata yang jarang menampakkan diri dalam keseharian kita, tentu saja saya akan mempertimbangkan banyak hal.

Saya tidak akan memaksakan diri membikin kalimat “amburadul” sekadar untuk membangunkan beberapa kosakata dari peraduan mereka. Judul tulisan ini menjadi perkecualian tentunya. Ada tujuan tertentu yang mengharuskan saya menampilkan deretan kata-kata yang (mungkin) membingungkan manusia itu.

Apa gunanya berbangga diri mencuatkan beberapa kata yang sekian lama tenggelam jika pembaca jadi sangat kesulitan mencerna kalimat yang saya susun?  Untuk apa kita capek-capek menulis kalau tidak ada seorang pun yang memahami maknanya?

Jangankan orang lain, saya sendiri pun kerap lupa. Saya harus sering membuka-buka kamus atau catatan ketika saya tidak mengingat arti kata-kata yang hendak saya terakan. Keadaan semacam itu terjadi lantaran saya tak pernah berinteraksi dengan mereka.

Himpunan Kosakata "Ganjil"

Kembali kepada judul tulisan ini. Hampir separo kalimat dalam judul itu menggunakan kata-kata yang nyaris tak pernah dijumpai manusia. Ataukah ini perasaan saya saja?

Saya memperoleh kosakata “ganjil” yang terkandung dalam kalimat itu dari pelbagai sumber. Kata daria dan sempena saya comot dari akun Instagram narabahasa, sedangkan istilah jatukrama tepercul di situs Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring ketika saya mencari makna sebuah ungkapan dalam kamus keluaran Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi itu.

Menemukan kosakata “ajaib” semacam itu memberikan kegembiraan tersendiri bagi saya. Hal itu berarti pundi-pundi daftar kosakata langka yang saya miliki bakal bertambah.

Dari kumpulan “harta karun” itulah kemudian saya merancang judul artikel yang “nggak jelas” ini. Lantaran “ketidakjelasan” sebagian kata-kata dalam kalimat itu, saya harus bolak-balik membuka tabel guna melihat makna kata yang belum lekat dalam ingatan saya.

Kamus, sang Penyelamat

Kalau Anda masih belum memahami kalimat yang tertera dalam judul tulisan ini, silakan membuka kamus bahasa Indonesia. Zaman kini, mengakses kamus bukan lagi perkara sulit. Selain dalam bentuk buku setebal bantal, sarana itu telah tersedia dalam versi daring yang bisa dikunjungi setiap saat, sepanjang tersedia gawai dan kuota yang mencukupi tentu saja.

Saya mengandalkan KBBI sebagai pedoman untuk memahami makna kosakata. Selain itu, saya juga menumpukan harapan pada Kamus Tesaurus Bahasa Indonesia atau biasa disebut Kamus Tesamoko untuk mendapatkan alternatif kata-kata yang akan saya bubuhkan dalam tulisan-tulisan saya.

Sebuah kamus memang dirancang dengan salah satu tujuan untuk memberi penjelasan kepada orang-orang yang kurang paham akan suatu istilah.

Bagaimana? Apakah Anda sudah menemukan makna kata daria, kata sempena, dan kata jatukrama?

Artikel Selanjutnya
Artikel Sebelumnya

penulis:

0 komentar: