-->

Film Tilik dan Potensi Bahasa Daerah di Indonesia

Post a Comment
Film Tilik “mengabarkan” bahwa bahasa daerah adalah sumber data amat besar untuk mengembangkan kosakata bahasa Indonesia.



ilustrasi peta indonesia
Ilustrasi peta Indonesia. Sumber gambar: Gordon Johnson dari Pixabay.

Saya baru usai menonton film Tilik. Film yang sedang viral itu menunjukkan adanya potensi besar bahasa daerah sebagai sumber pengembangan bahasa Indonesia. 

Seandainya dialog dalam film Tilik dilakukan dalam bahasa Indonesia, mungkin “guncangan’-nya akan berbeda. Bahasa Jawa telah membikin adegan-adegan dalam film ini terasa bagai fragmen-fragmen peristiwa dalam kehidupan nyata. 

Saya melihat, penggunaan bahasa Jawa dalam film pemenang Piala Maya untuk kategori film pendek itu sangat tepat. Ia menjadi salah satu unsur penting yang menguatkan film pendek yang digarap tahun 2018 itu. 

Argumen utamanya tentu saja karena bahasa Jawa memang merupakan bahasa yang sehari-hari digunakan oleh warga desa yang menjadi lokasi film itu. Jadi, dengan menggunakan bahasa yang sama dengan keseharian orang-orang di sana, dialog-dialog dalam film terasa alami dan nyata. 

Selain alasan itu, saya melihat ada pula alasan lainnya. Saya mengambil sebuah dialog yang muncul pada bagian akhir film ini sebagai contoh untuk menjelaskan alasan ini. 

Kala itu Bu Tejo merasa dirinya sangat berjasa setelah berhasil menghibur ibu-ibu yang kecewa karena gagal menengok Bu Lurah. Tokoh sentral dalam film Tilik itu kemudian mengajak ibu-ibu mampir ke pasar. Dengan sedikit angkuh, Bu Tejo mengucap, “Dadi wong ki mbok yo sing solutip.” 


Kalimat yang dilontarkan Bu Tejo merupakan ucapan khas wong Jawa. Akan sulit sekali menerjemahkan kalimat ini ke dalam bahasa Indonesia. Kita tidak mengenal frasa “mbok yo” dalam bahasa nasional kita. Bila dipaksakan menggantinya dengan ungkapan lain, rasanya pasti akan sangat berbeda. 

Nah, kalimat itu merupakan salah satu contoh saja. Jika kita telusuri lebih dalam, akan banyak kita temukan ungkapan-ungkapan khas masyarakat Jawa yang tiada duanya. 

Bahasa Jawa Adalah Bahasa yang Kaya Kosakata 

Kita mengenal bahasa Jawa sebagai bahasa dengan banyak tingkatan. Keadaan ini menjadi salah satu sebab banyaknya kosakata dalam bahasa Jawa. 

Sebuah kata dalam bahasa Indonesia bisa memiliki banyak padanan dalam bahasa Jawa sesuai tingkatannya. Saya ambil satu kata sebagai contoh, yaitu kata “makan”. 

Dalam bahasa Indonesia, orang menggunakan kata “makan” untuk menggambarkan orang yang memasukkan sesuatu ke dalam mulut, mengunyah dan menelannya. Hal itu terjadi siapa pun pelakunya dan siapa pun yang membicarakannya. 

Dalam bahasa Jawa lain ceritanya. Siapa yang melakukan suatu perbuatan dan siapa yang membincangkannya sangat berpengaruh terhadap pilihan kata yang akan digunakan untuk menggambarkannya. 

Dimulai dari kata yang paling halus hingga yang paling kasar, bahasa Jawa setidaknya memiliki lima kosakata yang menjelaskan aktivitas ini. Kelima kata itu adalah dhahar, nedha, mangan, (maaf) mbadhog, dan (maaf lagi) nguntal. Di luar kelima kata itu, masih terdapat variasi kata yang lain seperti maem

Itu baru dari satu kata. 

Contoh lain, kata ‘jatuh’ dalam bahasa Indonesia bisa “mekar” menjadi 17 kata dalam bahasa Jawa. Setiap kondisi jatuh memiliki ungkapan tersendiri.

Dengan melihat masyarakat Jawa yang menjunjung tingkatan-tingkatan dalam berbahasa, kita akan mendapati banyak sekali kosakata bahasa Jawa yang hanya diwakili oleh satu kata saja dalam bahasa Indonesia. 

Sayang sekali, hingga kini saya belum menemukan data yang valid mengenai jumlah kosakata dalam bahasa Jawa.

Namun, membayangkan banyaknya padanan kata bahasa Jawa atas satu kata bahasa Indonesia seperti contoh-contoh di atas tentu saja menunjukkan sebuah peluang besar, bukan?

Kontribusi Bahasa Daerah terhadap Bahasa Indonesia


Pembahasan mengenai bahasa Jawa sebagai bahan pengaya bahasa Indonesia di atas sebatas contoh. Ada dua alasan yang melatarbelakangi paparan menyangkut hal ini. 

Alasan pertama, karena saya baru saja menonton film berbahasa Jawa yang sedang viral. Selain terhibur, saya juga mendapatkan inspirasi dari tontonan singkat ini. 

Yang kedua, karena kebetulan saya lahir dan menghabiskan sebagian waktu hidup saya di tanah Jawa. Faktor “kebetulan” ini membikin saya cukup memahami bahasa ini sehingga (mudah-mudahan) lebih paham isi film yang mencuatkan gagasan itu. Selain tentu saja bisa memberikan beberapa contoh penggunaan bahasa Jawa di luar film yang menjadi pokok perbincangan. 

Baca juga ulasan mengenai cara memperbaiki kalimat tidak efektif yang sepanjang kereta api.
Selama ini, bahasa Jawa telah menjadi bahasa daerah yang paling banyak menyumbang kosakata bagi bahasa Indonesia.

Tercatat, di antara 3.592 kosakata yang berasal dari semua bahasa daerah yang masuk ke dalam bahasa Indonesia, sebanyak 1.109 kosakata berasal dari bahasa Jawa. Jadi, sumbangan kosakata bahasa Jawa mencapai 30,87% dibandingkan sumbangan kosakata semua bahasa daerah di Indonesia.

infografik sumbangan bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia
Infografik kontribusi kosakata bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia. Sumber data: badanbahasa.kemdikbud.go.id.

Bahasa Daerah Adalah Harta Karun yang Terpendam


Salah satu fungsi bahasa daerah adalah sebagai pendukung bahasa Indonesia (kemdikbud.go.id). Jadi, tidak salah menggunakan istilah-istilah bagian dari kosakata dalam bahasa daerah untuk menambah perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia. Tentu saja penggunaannya harus sesuai dengan aturan yang berlaku. 

Badan Bahasa telah melakukan upaya tersebut. Sebagai contoh, sejak 28 Oktober 2016 hingga sekitar April 2018, terdapat sekira 20.000 kosakata bahasa daerah yang diusulkan masuk sebagai kosakata baru dalam bahasa Indonesia.

Berdasarkan data Kemendikbud, per Oktober 2019 terdapat 718 bahasa daerah di seluruh wilayah Indonesia yang telah diidentifikasi (medcom.id). Jumlah ini menempatkan Indonesia pada posisi kedua sebagai negara yang memiliki jumlah bahasa terbanyak di dunia. 

Angka sebanyak itu belum termasuk sejumlah dialek yang terdapat di pelbagai pelosok negara kita. Bila dialek-dialek itu ditambahkan, tentu jumlahnya akan menjadi lebih besar lagi.  

Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa daerah di antara sekian banyak bahasa daerah di Indonesia. Kira-kira berapa banyak kosakata dalam semua bahasa daerah di Indonesia jika dikumpulkan, ya?

Bayangkan, betapa besar potensi bahasa-bahasa daerah di nusantara ini. Bahasa daerah adalah harta karun amat berharga yang bakal memperkaya bahasa Indonesia.

Artikel Terkait

Post a Comment