Senin, 24 Agustus 2020

Film Tilik dan Potensi Bahasa Daerah di Indonesia

Saya baru usai menonton film Tilik. Film yang sedang viral itu menunjukkan adanya potensi besar bahasa daerah sebagai sumber pengembangan bahasa Indonesia. 

film tilik dan bahasa daerah sebagai sumber pengembangan bahasa Indonesia

Seandainya dialog dalam film Tilik dilakukan dalam bahasa Indonesia, mungkin “guncangan’-nya akan berbeda. Saya melihat, penggunaan bahasa Jawa dalam film pemenang Piala Maya untuk kategori film pendek itu sangat tepat. Ia menjadi salah satu unsur penting yang menguatkan film pendek yang digarap tahun 2018 itu. 

Alasan utamanya tentu saja karena bahasa Jawa memang merupakan bahasa yang sehari-hari digunakan oleh warga desa yang menjadi lokasi film itu. Jadi, dengan menggunakan bahasa yang sama dengan keseharian orang-orang di sana, dialog-dialog dalam film terasa alami dan nyata. 

Selain alasan itu, saya melihat ada pula alasan lainnya. Saya mengambil sebuah dialog yang muncul pada bagian akhir film ini sebagai contoh untuk menjelaskan alasan ini. 

Kala itu Bu Tejo merasa dirinya sangat berjasa setelah berhasil menghibur ibu-ibu yang kecewa karena gagal menengok Bu Lurah. Tokoh sentral dalam film Tilik itu kemudian mengajak ibu-ibu mampir ke pasar. Dengan sedikit angkuh, Bu Tejo mengucap, “Dadi wong ki mbok yo sing solutip.” 

Kalimat yang dilontarkan Bu Tejo merupakan ucapan khas wong Jawa. Akan sulit sekali menerjemahkan kalimat ini ke dalam bahasa Indonesia. Kita tidak mengenal frasa “mbok yo” dalam bahasa nasional kita. Bila dipaksakan menggantinya dengan ungkapan lain, rasanya pasti akan sangat berbeda. 

Nah, kalimat itu merupakan salah satu contoh saja. Jika kita telusuri lebih dalam, akan banyak kita temukan ungkapan-ungkapan khas masyarakat Jawa yang tiada duanya. 


Bahasa Jawa yang Kaya Kosakata 

Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia yang memiliki kosakata yang sangat banyak. Dan bahasa Jawa merupakan bahasa dengan penutur terbanyak di tanah air, mencapai lebih dari 80 juta orang. 

Kita mengenal bahasa Jawa sebagai bahasa dengan banyak tingkatan. Keadaan ini menjadi salah satu sebab banyaknya kosakata dalam bahasa Jawa. 

Sebuah kata dalam bahasa Indonesia bisa memiliki banyak padanan dalam bahasa Jawa sesuai tingkatannya. Saya ambil satu kata sebagai contoh, yaitu kata “makan”. 

Dalam bahasa Indonesia, orang menggunakan kata “makan” untuk menggambarkan orang yang memasukkan sesuatu ke dalam mulut, mengunyah dan menelannya. Hal itu terjadi siapa pun pelakunya dan siapa pun yang membicarakannya. 

Dalam bahasa Jawa lain cerita. Siapa yang memasukkan sesuatu, mengunyah dan menelan sangat berpengaruh terhadap pilihan kata yang akan digunakan untuk menggambarkannya. 

Dimulai dari kata yang paling halus hingga yang paling kasar, bahasa Jawa setidaknya memiliki lima kosakata yang menjelaskan aktivitas ini. Kelima kata itu adalah dhahar, nedha, mangan, (maaf) mbadhog, dan (maaf lagi) nguntal. Di luar kelima kata itu, masih terdapat variasi kata yang lain seperti maem

Itu baru dari satu kata. Dengan melihat masyarakat Jawa yang menjunjung tingkatan-tingkatan dalam berbahasa, kita akan mendapati banyak sekali kosakata bahasa Jawa yang hanya diwakili oleh satu kata saja dalam bahasa Indonesia. 

Fungsi Bahasa Daerah 


Saya mengajukan bahasa Jawa sebagai bahan pengaya bahasa Indonesia sebatas contoh. Ada dua alasan saya melakukan hal ini. 

Alasan pertama, karena saya baru saja menonton film berbahasa Jawa yang sedang viral. Selain terhibur, saya juga mendapatkan inspirasi dari tontonan singkat ini. 

Yang kedua, karena kebetulan saya lahir dan menghabiskan sebagian waktu hidup saya di tanah Jawa. Faktor “kebetulan” ini membikin saya cukup memahami bahasa ini sehingga (mudah-mudahan) lebih paham isi film yang mencuatkan gagasan itu. Selain tentu saja bisa memberikan beberapa contoh penggunaan bahasa Jawa di luar film yang menjadi pokok perbincangan. 

Salah satu fungsi bahasa daerah adalah sebagai pendukung bahasa Indonesia (kemdikbud.go.id). Jadi, tidak salah menggunakan istilah-istilah bagian dari kosakata dalam bahasa daerah untuk menambah perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia. Tentu saja penggunaannya harus sesuai dengan aturan yang berlaku. 

Berdasarkan data Kemendikbud, per Oktober 2019 terdapat 718 bahasa daerah di seluruh wilayah Indonesia yang telah diidentifikasi (medcom.id). Jumlah ini menempatkan Indonesia pada posisi kedua sebagai negara yang memiliki jumlah bahasa terbanyak di dunia. 

Angka sebanyak itu belum termasuk sejumlah dialek yang terdapat di pelbagai pelosok negara kita. Bila dialek-dialek itu ditambahkan, tentu jumlahnya akan menjadi lebih besar lagi.  

Bayangkan, betapa besar potensi bahasa-bahasa daerah di nusantara ini sebagai pengaya bahasa Indonesia.
Artikel Selanjutnya
Artikel Sebelumnya

penulis:

0 komentar: