Salah Sangka Manusia terhadap Rusa - Ulas Bahasa -->

Salah Sangka Manusia terhadap Rusa

Post a Comment

Saya telah salah sangka terhadap rusa. Semula saya mengira istilah yang akan kita bahas berkaitan dengan satwa pemamah biak ini, ternyata ....

 ilustrasi seekor rusa

Ilustrasi seekor rusa. Sumber gambar: Pezibear dari Pixabay.

Seekor mamalia bertanduk cabang menggelepar dan mengerang. Darah segar mengucur deras dari lubang yang menganga di pangkal lehernya yang jenjang.

Melihat aliran merah yang melaju begitu cepat, kecil sekali kemungkinan binatang ini bakal selamat. Sepertinya bagus baginya untuk segera mati, ketimbang berlama-lama menderita sakit tak terperi.

Suasana berbeda terlihat di suatu tempat tak jauh darinya. Di balik derita makhluk yang tengah sekarat, tersungging senyum gembira seorang pria penyandang sepucuk bedil berkarat. Kali ini, ia beroleh kemenangan dan bakal melangkah pulang dengan kepala yang ditegakkan.

Daria. Siapakah dia?

Ia membayangkan deretan orang dengan wajah tercengang berdiri di tepi jalan yang dilaluinya. Mereka bakal melirik dengan wajah takjub bagian depan mobil tanpa atap yang dikendarainya. Seekor rusa, atau lebih tepatnya seonggok jasad rusa yang terkulai di sana menjadi lambang keberhasilannya.

“Ada rusa!” teriak seorang bocah berambut ikal yang baru keluar dari sebuah minimarket bersama seorang wanita, mungkin ibunya. Telunjuk kanannya teracung ke arah bangkai binatang yang terikat erat di mobil sang pemburu.

Saat itu, harga diri pria yang gemar memburu dan menangkap hewan liar itu meningkat sekian derajat. Ibarat panas setahun dibalas hujan sehari, kegagahannya langsung mencuat setelah sekian lama merasa diri tak berarti. Memang sudah sangat lama ia selalu pulang dengan tangan hampa.

Cerita di atas sekadar imajinasi yang mencungul dari benak saya. Mungkin juga banyak cerita serupa benar-benar terjadi di alam nyata.

Nah, kini tiba saatnya saya menceritakan sebuah kisah nyata. Kisah yang benar-benar saya alami belasan tahun silam.

Kisah Suram Masa Silam

Beberapa tahun lampau, saya memiliki sejilid buku yang mendapat banyak pujian dari pelbagai kalangan. Barangkali Anda mengenal buku ini, Dunia Sophie judulnya.

Sayang sekali, saya tak sempat membuktikan sanjungan orang-orang yang mengatakan bahwa buku ini memiliki kualitas yang pantas dibanggakan. Alasannya tentu bukan karena saya enggan membacanya. Justru ketika itu saya amat tidak sabar untuk segera menyantap hingga tandas keseluruhan isinya.

Yang menjadi persoalan adalah, buku itu tak lagi berada di tangan saya tatkala baru sebagian kecil saya lahap isinya. Lha, ke mana gerangan perginya?

Bayangan seperti apa yang timbul dalam benak Anda tatkala mendengar seseorang berseru, “Hei, perempuan itu berpakaian seronok sekali!”?

Nah, kita akan membahas sebuah istilah misterius yang saya ungkap di atas melalui kejadian yang saya alami bertahun-tahun silam. Kehilangan buku karya Jostein Gaarder itu merupakan kisah nyata yang menunjukkan adanya sosok yang diberi julukan dengan kosakata penuh misteri ini.

Buku yang membikin saya penasaran itu telah berpindah tangan. Seorang teman dari seorang teman saya telah menguasainya.

Pemindahan kekuasaan atas buku itu seizin saya. Ia menggunakan kata ‘pinjam’ saat mengutarakan ketertarikannya pada novel yang berkisah tentang sejarah filsafat itu. Saya tidak mengira bahwa peristiwa itu menjadi kali terakhir saya “menjamah” si Sophie.

Usai mendapatkan salah satu novel terlaris di dunia dan telah diterjemahkan ke lebih dari enam puluh bahasa itu, sang “peminjam” melupakan ucapannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan sejak merengkuh Sophie dari dekapan saya, ia tak pernah mendatangi saya untuk mengembalikan barang yang bukan miliknya.

Salah Sangka dalam Memaknai Kata ‘Pinjam’

Saya menduga, ia tak pernah membuka kamus. Buktinya, ia tak memahami kata ‘meminjam’.

Padahal kamus kita, KBBI, jelas-jelas mencantumkan frasa ‘untuk sementara waktu’ ketika memaknai kata ‘meminjam’. Bahkan, kamus besar itu menambahkan satu syarat, ‘kalau sudah sampai waktunya harus dikembalikan’.

Namun, barangkali saya keliru melaksanakan akad pinjam-meminjam dengannya ketika itu. Tidak ada akta tertulis, tidak ada saksi-saksi, dan tidak ada penetapan jangka waktu yang membikin saya tak bisa menyeret “tersangka” ke ranah hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Pada era digital ini, Anda tentu akrab dengan istilah ini. Namun, Anda mungkin tak mengira bahwa kosakata beraroma asing ini tak berhubungan dengan komputer dan internet.

Beberapa waktu kemudian, teman saya yang juga teman si “peminjam” buku hanya mengulum senyum mendengar tuturan saya perihal “pinjam-meminjam” buku antara kedua temannya.

“Sudah biasa begitu,” ujarnya singkat dan datar.

We, lhadalah!

“Memang bukan rezeki saya,” kata hati saya menirukan ucapan yang kerap didengarnya saat tuannya menghadapi kondisi serupa.

Spasi yang Membedakan Arti

Belasan tahun kemudian, saya baru menemukan julukan yang tepat bagi teman dari teman saya yang akhirnya menjadi teman saya. Narabahasa telah berbaik hati menyampaikan sebuah pengetahuan baru.

Julukan itu demikian “ganjil” hingga amat menarik perhatian saya. Segera saja saya memasukkannya ke dalam daftar kosakata langka yang saya punya. Lumayan, koleksi saya bertambah.

Dalam akun IG-nya, Narabahasa membahas makna sebuah kata. Kosakata yang ditayangkan dalam konten itu sangat berasa Indonesia. Namun, saya tidak menyangka bahwa makna yang terkandung di dalamnya amat jauh dari bayangan saya semula.

Anda mungkin tidak menyangka bahwa orang miskin mendapat sebutan ini.

Jika kita menempatkan spasi di tengah-tengah kata ini hingga memisahkan dua suku kata pertama dengan dua yang terakhir, kita bisa dengan jelas menampilkan keadaan yang digambarkannya. Ungkapan ini mungkin pernah kita dengar di kebun binatang.  Mungkin juga kita pernah mendengarnya dari seseorang yang tengah menonton tayangan impor “Animal Planet” atau produk domestik “Si Otan”.

Namun, ketika kita tidak menemukan spasi di sana, saya tidak yakin Anda memahami artinya. Saya pun tidak mengerti, ketika pertama kali menjumpai istilah ini.

Apakah Anda penasaran dan ingin segera mengetahui kosakata yang menjadi “merek dagang” orang-orang yang berkelakuan seperti teman saya, suka “meminjam” barang tapi “lupa” mengembalikannya? Bila demikian, silakan periksa kembali cerita rekaan saya tentang pemburu yang berbangga hati di awal tulisan ini.

Teriakan bocah berambut ikal merupakan petunjuk yang bisa Anda ikuti. Anda tinggal membuang jauh-jauh spasi yang “menghalangi pertemuan” dua kata yang dilafalkan si bocah.

Sesudah itu, terbongkarlah rahasia kosakata misterius kita. Semoga tak ada lagi salah sangka manusia terhadap rusa.

Artikel Terkait

Post a Comment