-->

Ketika Demam Melanda Negeri Kita

Post a Comment

Membincang demam tentu sulit terlepas dari pandemi yang tengah kita alami. Demam menjadi bagian tak terpisahkan dari wabah yang sedang melanda bumi.

ilustrasi demam
Gambar termometer pengukur suhu tubuh. Sember gambar: Congerdesign dari Pixabay

Kata ‘demam’ menjadi salah satu kosakata penting dan banyak disebut orang sekira dua tahun belakangan ini. Sebabnya tentu saja karena ia berkaitan erat dengan berjangkitnya wabah yang tengah melanda dunia dalam kurun waktu itu.

Dalam masa pandemi, tubuh yang meriang harus lebih diwaspadai. Kondisi itu acap ditengarai sebagai salah satu gejala orang yang terjangkit virus Covid-19.

Maka, mengganasnya virus Corona telah “menaikkan derajat” demam ke posisi yang lebih tinggi. Pada masa sebelum wabah melanda, naiknya suhu badan dianggap biasa-biasa saja. Namun sejak berjangkit pandemi, suhu badan yang meninggi merupakan kondisi yang amat ditakuti.

Dari Mana Datangnya?

Di luar urusan pandemi, terjadi demam yang lain lagi. Lebih dari dua pekan terakhir ini, kata ini kembali mengisi ruang-ruang obrolan di negeri ini.

Namun demam yang satu ini tidak berada dalam ranah kesehatan sehingga tidak akan menambah kesibukan para nakes yang sudah amat kelelahan.

Dampak yang ditimbulkan oleh kedua macam demam ini sungguh berbeda. Jika yang pertama berkonotasi buruk karena berhubungan dengan penyakit, yang kedua sebaliknya.

Merebaknya ungkapan demam yang kedua bermula dari lapangan hijau. Kemunculannya  tak lepas dari harapan tinggi yang disematkan banyak warga Indonesia terhadap tim nasional yang berlaga di kancah sepak bola antarnegara di kawasan Asia Tenggara.

Ajang sepak bola yang mempertemukan tim-tim nasional dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara ini masih menyimpan “misteri besar” bagi kita. Entah apa yang tersembunyi di dalamnya.

Baca juga artikel yang membahas hubungan antara perumahan dan buaya.

Dua belas kali keikutsertaan kesebelasan nasional Indonesia tak kunjung membuahkan hasil yang didambakan banyak warga. Belum sekali pun pasukan Garuda membawa pulang piala yang diperebutkan dua tahun sekali itu ke tanah air kita. Padahal sebelum perhelatan yang tertunda akibat pandemi, kesebelasan kita telah melakoni pertandingan final sebanyak lima kali.

Melihat kilatan cahaya cerah yang dipancarkan oleh seorang pelatih kelas Piala Dunia, harapan kita pun kembali menggelora. Kita sangat memalarkan Shin Tae-yong, sang pelatih asal Korea, mampu mengantar anak-anak Garuda nan penuh semangat mengangkat Piala AFF untuk pertama kalinya.

Barangkali, dari sinilah mula demam melanda sebagian penduduk Indonesia. Ya, demam ini bukan gejala penyakit, melainkan meningkatnya gairah orang-orang mengikuti sepak terjang tim Garuda mengejar piala. Masyarakat Indonesia tengah terjangkit demam bola, atau demam Timnas Indonesia.

Puncak Demam Akan Segera Tiba

Sepertinya, demam bola bakal mencapai klimaksnya dalam waktu yang tak lama. Tim sepak bola kita bakal berlaga melawan si Gajah Perang Thailand yang hingga saat ini merupakan negara yang paling sering meraih trofi.

Semoga pada laga final keenam yang dilakoni timnas kita, para penggawa Garuda mampu mendaratkan piala lambang kejayaan sepak bola Asia Tenggara ke Indonesia. Kali ini, kita pasti sangat memimpikan Indonesia menjadi juara.

Baca juga tulisan yang mengulas mantan yang istimewa.

Namun harap diperhatikan. Jika tidak dilakukan secara bijaksana, puncak demam sepak bola ini bisa berujung timbulnya dedar yang sebenarnya. Ingat ya, Corona masih terus mencari-cari kelengahan kita.

Maka, bila ingin nobar alias nonton bareng  siaran perebutan gelar juara ini, sebaiknya tetap dijalankan dengan mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Lebih bagus nonton di rumah aja.

Menilik Beberapa Makna Kata Demam

Eh, tapi tunggu dulu. Setelah melihat KBBI, saya jadi punya pemikiran yang berbeda tentang ungkapan yang satu ini.

Kamus bahasa Indonesia yang telah saya sebut menerakan kata ‘tergila-gila’ sebagai makna kata demam yang kedua. Makna pertama tentu saja berhubungan dengan dunia kesehatan.

Dalam ‘tergila-gila’ terkandung kata ‘gila’. Kamus yang sama menorehkan kata ‘sakit’ saat memaknai kata ini.

Jadi, apakah kondisi tergila-gila berarti sakit? Mari kita cermati lagi.

Baca juga paparan tentang seringnya orang salah memahami arti kata seronok.

Ungkapan yang terakhir ini memiliki tiga makna. Dua makna pertama dekat kaitannya dengan kondisi tidak nyaman, sebab ada kata ‘berlebih-lebihan’, ‘keranjingan’, dan ‘menjadi-jadi’ di sana.

Namun, jika kita melihat makna yang ketiga, mungkin kita akan merasakan sesuatu yang berbeda. Makna ketiga dari kata ‘tergila-gila’ adalah ‘jatuh hati’ atau ‘jatuh cinta’.

Nah, benar, kan? Sepertinya Anda mulai “berprasangka baik” terhadap ungkapan yang beraroma menyenangkan ini. Jangan-jangan Anda auto membayangkan suatu masa yang begitu indah dalam hidup Anda.

Jatuh yang satu ini memang berlumur keindahan, walaupun entah bagaimana akhir ceritanya. Padahal, umumnya orang jatuh akan merasakan sakit, entah itu raga atau jiwanya. Situasinya akan menjadi berbeda kalau yang menemani ‘jatuh’ adalah ‘cinta’.

Jadi, sebenarnya demam itu penyakit atau bukan, sih? Demam bola itu bikin badan atau perasaan menjadi tidak nyaman atau justru memunculkan kegembiraan?

Newest Older

Artikel Terkait

Post a Comment