Kamis, 05 Agustus 2021

Aksi Diving yang Populer dalam Sepak Bola

Aksi diving kembali menghiasi pertandingan bola. Sebuah kejadian unik pun mengikuti aksi tidak elok yang tersaji dalam semi final Olimpiade Tokyo ketika Brasil bersua Meksiko.

 

Ilustrasi diving oleh Pexels (Pixabay)

Wasit mengubah keputusannya memberikan tendangan penalti bagi Brasil usai mengamati tayangan Video Assistant Referee (VAR).

Pokok masalah yang menimbulkan kekisruhan itu adalah tindakan Douglas Luiz yang terkesan curang. Kala itu, badan Luiz berbenturan dengan Jose Esquivel di kotak penalti Meksiko hingga keduanya tersungkur.

Posisi Luiz yang berada di depan Esquivel terlihat seakan-akan Luiz dilanggar oleh pemain Meksiko bernomor punggung 16 itu. Kedua pemain dibantu oleh rekan-rekan mereka segera merubung wasit minta “keadilan”.

Tanpa berpikir panjang, wasit segera mengambil keputusan yang tak lama kemudian berbuah kericuhan. Ketetapannya menghukum Meksiko dengan sebuah tendangan penalti seusai insiden “kotor” itu membuat para penggawa Meksiko naik darah.

Dalam tayangan ulang televisi yang saya saksikan, pemain Brasil bernomor punggung 5 itu terlihat sengaja memasang badannya di hadapan Esquivel yang tengah berlari kencang. Sepertinya Luiz berharap dirinya dilanggar lawannya—atau mungkin bermaksud mengamankan bola, entah apa yang terlintas dalam pikirannya.

Setelah para pihak yang terlibat, dengan pelbagai ekspresi kecewa dan marah, beradu argumen, wasit memutuskan untuk mengunjungi konter VAR di tepi lapangan. Sejenak sang wasit terlihat mengamati tayangan ulang kejadian penting itu.

Hasilnya? Sang wasit mengurungkan hukuman yang harus diterima Meksiko. Tim Samba batal mendapatkan peluang besar mencetak gol dari titik putih dan meraih keunggulan sementara atas Sombrero.

Sepanjang laga hingga berakhirnya pertandingan, kedua tim tidak berhasil menceploskan si kulit bundar ke gawang lawan masing-masing. Atau mungkin ada tim yang merasa berhasil setelah menjaga gawang mereka tetap perawan? Entahlah.

Tim asal negara yang sarat dengan prestasi sepak bola dunia, Brasil, yang menguasai jalannya pertandingan, akhirnya menuju babak akhir. Seusai menundukkan lawannya dalam adu tendangan penalti, mereka bakal bertarung melawan tim Matador Spanyol dalam perebutan medali emas.

Meminjam Kemampuan Makhluk Lain

Saya tidak akan membahas lebih panjang lagi soal pertandingan yang terlihat timpang itu. Saya lebih suka membincang urusan lain yang masih berhubungan dengan salah satu cabang olahraga dengan banyak penggemar di seluruh dunia itu.

Dalam suatu pertandingan sepak bola, biasanya akan bertabur kata kerja yang dipinjam dari pihak lain dan disematkan bagi para pemain yang tampil. Sebut misalnya, para burung harus rela meminjamkan kemampuan andalannya, terbang, terutama bagi seorang penjaga gawang dalam sebuah tim sepak bola.

“Dengan gemilang, Guillermo Ochoa, kiper senior Meksiko itu, terbang menghalau bola yang mengarah ke gawangnya.”

Itu salah satu contoh pembawa acara siaran pertandingan sepak bola di televisi saat meminjamkan—sangat mungkin tidak meminta izin kepada pemiliknya—kata kerja “terbang” kepunyaan para burung kepada seorang penjaga gawang. Begitulah manusia, sudah memiliki banyak sekali kecakapan yang tidak dipunyai makhluk lain, masih juga “merampas” kemampuan yang dimiliki binatang yang tak mempunyai banyak keterampilan seperti manusia.

Pertandingan semi final cabang sepak bola Olimpiade 2020 Tokyo yang telah saya singgung di atas juga memperlihatkan contoh lain peminjaman kata dalam sepak bola. Sebutan pelaku diving segera tersemat pada diri Douglas Luiz seusai tindakannya yang membikin para pemain Meksiko murka.

Istilah yang umum terjadi pada bidang lain pun turut meramaikan dunia sepak bola. Kosakata “gaib” diving menjadi bagian tak terpisahkan dari pertandingan bola.

Peminjaman kata terbang, yang merupakan produk dalam negeri, sepertinya tidak perlu dipersoalkan. Berbeda halnya dengan istilah diving yang jelas-jelas bagian dari bahasa asing.

Barangkali perlu dicarikan ungkapan lain atau dilakukan penyesuaian terhadap kata ini agar lebih pas terucap oleh lidah kita. Selain itu, tentu kita gembira melihat tambahan perbendaharaan kosakata dalam bahasa kita.

Diving di Lapangan Bola?

Saya menaruh minat pada kata diving yang kerap dialamatkan bagi pemain sepak bola yang secara sengaja menjatuhkan diri seakan-akan dilanggar oleh lawannya—padahal dari tayangan ulang tidak tampak adanya benturan—dengan harapan lawan mendapatkan hukuman.

Tingkah semacam ini kerap dilakukan seorang penyerang yang berada dalam kotak penalti lawan. Bila upayanya berhasil, keuntungan yang bakal didapatkan timnya sangat menggiurkan, yakni tendangan penalti yang memberikan peluang menghasilkan gol amat tinggi.

Bila dalam sebuah pertandingan muncul kejadian seperti ini, maka kata diving akan seketika menjadi sangat penting. Pembawa acara dan komentator bakal sering menyebut-nyebutnya sepanjang siaran yang mereka bawakan. Media-media lainnya pun akan berduyun-duyun memasang kata ini dalam berita dan ulasan yang akan mereka tayangkan pada kesempatan berikutnya.

Dengan mengingat arti kata diving yang pernah kita pelajari dalam mata pelajaran bahasa Inggris sewaktu sekolah, barangkali kita akan terheran-heran mendapati kenyataan bahwa kata ini tidak berhubungan sama sekali dengan kegiatan menyelam.

Untungnya, sebelum menyaksikan partai Brasil versus Meksiko, saya sempat membaca sebuah cuitan Ivan Lanin yang ternyata berkaitan dengan pertandingan ini. Melalui akunnya, sang pencinta bahasa Indonesia menayangkan usulan padanan kata diving menjadi “jatuh tipu”.

Usulan padanan kata diving
Tangkapan layar usulan padanan kata diving oleh Ivan Lanin

Saat itu saya belum meneliti lebih lanjut, apakah kata itu masih sebatas usulan atau sudah resmi menjadi kosakata baku dalam bahasa Indonesia.

Adegan yang diperagakan oleh Douglas Luiz di dalam kotak penalti Meksiko mengingatkan saya pada kata yang berkonotasi buruk dalam dunia sepak bola itu. Sebuah istilah yang kerap diucapkan dan hingga kini, setelah menelusuri Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), saya belum menemukan frasa “jatuh tipu” di dalamnya.

Frasa jatuh tipu tidak ada dalam KBBI
Tangkapan layar pencarian frasa jatuh tipu dalam KBBI Daring. Sumber: kbbi.kemdikbud.go.id

Padanan kata bisa menjadi modal penting untuk memperbanyak kosakata bahasa Indonesia. Semoga saja pihak berwenang segera menetapkan padanan kata diving, apakah sesuai usulan Ivan Lanin atau saran orang lain.

Sumber gambar: Pexels (Pixabay)

Artikel Selanjutnya
Artikel Sebelumnya

penulis:

0 komentar: