Kamis, 26 Agustus 2021

Masuk Perumahan Tak Perlu (Lagi) Takut Buaya

Masuk perumahan, kenapa harus takut buaya? Memang pernah tersiar warta perihal buaya berkeliaran di kawasan perumahan, tapi bukan itu persoalannya.

ilustrasi perumahan
  

Saking banyaknya perumahan yang berdiri serta penambahannya hingga kini terus terjadi telah membuat para pengembang, yang lebih dikenal dengan sebutan developer, berpikir keras. Selain persoalan teknis menyangkut pembangunan, pemasaran dan masalah-masalah lain, pemilihan nama merupakan urusan yang tak bisa disepelekan.

Setelah sejumlah istilah domestik terpakai untuk menamai pelbagai hunian, nama-nama asing pun menjadi pilihan, dan kemudian merajalela. Kita sudah sering melihat kompleks-kompleks perumahan (di Indonesia) dengan sebutan-sebutan yang tak gampang dieja, seakan-akan kita tengah berada  di daratan Amerika atau Eropa nun jauh di sana.

Baca juga artikel yang membahas hubungan antara rudin dan orang miskin.

Nah, seusai sebutan-sebutan yang keminggris--pencinta bahasa Indonesia Ivan Lanin menyebutnya nginggris--hampir tak bersisa, para pengembang meluaskan wilayah perburuan gagasan mereka ke kawasan lain.

Entah faktor apa yang melatarbelakangi, sebagian pengembang memutar balik haluan mereka untuk kembali ke negeri sendiri. Rupanya, istilah-istilah domestik tak kalah menarik dan bisa menjadi harapan untuk mendapatkan nama indah bagi kawasan hunian yang hendak mereka dirikan.

Perburuan mereka menghasilkan kata graha sebagai salah satu pilihan yang layak diandalkan sebagai merek hunian, selain griya dan beberapa sebutan lainnya. Sebuah kata yang ringkas, enak diucapkan dan didengarkan, dan tak menurunkan harga diri penghuninya jika disandingkan dengan residence, mansion, garden, dan sebutan-sebutan khas kompleks perumahan lainnya yang acap kita temukan.

Maka, bertebaranlah perumahan-perumahan yang mengusung graha sebagai bagian namanya di sudut-sudut kota, dan kini telah banyak merambah kawasan desa, di negeri kita. Graha pula yang banyak menghias plang nama gedung pencakar langit yang digunakan sebagai perkantoran dan perdagangan.

Baiklah, saya mengerti. Saya juga sudah sering membaca artikel yang membahas tema ini. Masalahnya, kenapa harus menyebut-nyebut buaya dalam urusan ini?

Makna Kata Graha dalam Kaitan dengan Perumahan

Mari kita buka kamus bersama-sama. Kamus bahasa Indonesia tentunya. Misalnya saja Kamus Besar Bahasa Indonesia alias KBBI, bisa pilih versi daring atau luring.

Kita menuju lema graha. Apa yang Anda temukan di sana? Rumah, perumahan, gedung, bangunan, atau makna-makna lain yang serupa?

Ternyata tidak. Arti kata graha sama sekali tidak berhubungan dengan urusan perumahan atau bidang properti pada umumnya.

Kamus itu memperlihatkan dua penjelasan untuk memaparkan makna kata graha. Arti pertama adalah kata kerja ‘menangkap’, sedangkan yang kedua berupa kata benda, yaitu ‘buaya’.

Baca juga artikel yang menunjukkan istimewanya kata ‘mantan’.

Nah, sekarang sudah ketemu kan, buayanya. Rupanya hewan buas itu sempat bersembunyi di balik kata graha yang (mungkin) belum benar-benar kita pahami maknanya.

Waduh! Kalau graha artinya buaya, apa nggak pada takut tinggal di “Graha-Graha” itu, ya? Entah, mungkin saja bayangan para penghuni tentang graha sama dengan yang diangankan perancang nama-nama perumahan itu.

Adakalanya ketidaktahuan justru menyelamatkan, atau setidaknya menenangkan. Bukan begitu?

Kalau Bukan Graha, Apa Dong?

Lantas, untuk menamai kompleks perumahan atau gedung perkantoran, sebaiknya pakai istilah apa?

Bila kita mengetik kata ‘graha’ dalam bilah pencarian yang disediakannya, bagaikan seorang paranormal, KBBI seperti mampu menduga arah pikiran kita. Indikasinya, ia langsung menerakan tanda tanya dan segera mengarahkan kita ke kata lain, yakni gerha, yang maknanya sejalan dengan apa yang kita pikirkan. Hebat juga, ya!

Akhirnya, pada lema gerha inilah pencarian kita mendapatkan hasil yang kita inginkan. Memang terdapat arti lain yang ditempatkan sebagai makna pertama oleh KBBI, yakni istri atau permaisuri, sehingga baru pada makna yang kedua kita menjumpai penjelasan yang kita cari-cari.

Makna kata gerha—yang sesuai dengan tujuan pencarian yang kita lakukan--yang disampaikan KBBI adalah bangunan, kantor, tempat tinggal, dan sebagainya.

Bila dirunut lebih lanjut, kata ini berasal dari bahasa Sanskerta grha yang berarti rumah. Kemudian pemegang wewenang di Badan Bahasa menyerapnya ke dalam bahasa Indonesia menjadi gerha.

Ha, ha, ha! Seru juga petualangan kita kali ini, ya!

Baca juga artikel tentang eloknya kata ‘seronok’.

Saya menduga sebelumnya telah banyak orang melakukan hal yang sama. Mereka mencari makna kata graha dengan harapan mendapatkan penjelasan yang berkaitan dengan bangunan. Rupanya hidung para pengelola KBBI cukup tajam hingga mampu mengendusnya.

Kalau begitu, kita tak lagi perlu cemas sewaktu-waktu bakal dihadang seekor buaya saat mengunjungi perumahan atau gedung dengan nama Graha Ini atau Graha Itu. Kecuali buaya darat, barangkali. Ternyata bukan lantaran didiami binatang melata itu yang menyebabkan banyak gedung dan perumahan dikasih nama Graha.

Nah, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda juga pernah mendapatkan pengalaman serupa? Mencari arti kata graha lantaran menganggapnya berhubungan dengan perumahan?

Sumber gambar: Free Photos (Pixabay)

Artikel Selanjutnya
Artikel Sebelumnya

penulis:

0 komentar: