Sabtu, 23 Oktober 2021

Makna-Makna yang Tercecer dari Kata 'Layap'

Ada empat makna kata layap yang baru saja saya ketahui. Di antara keempat makna yang terkandung dalam kata ini, barangkali satu saja yang kita kenali.

Ilustrasi melayap
      Ilustrasi melayap. Sumber gambar: Stan Swinnen dari Pexels

Ini merupakan suatu kondisi yang agak memprihatinkan. “Penyempitan” makna kata semacam ini bisa menyurutkan potensi sebuah kata untuk berkembang dan lebih dikenal masyarakat. Penggunaan empat makna dari sebuah kata tentu akan memperbesar kemungkinan merebaknya kata ini ketimbang satu makna saja.

Sesuatu yang tentunya sangat kita sayangkan. Pada saat banyak pihak menilai bahwa bahasa Indonesia miskin kosakata, ternyata terdapat kosakata—yang telah dengan susah-payah diciptakan—yang kita telantarkan. Sudah jumlahnya sedikit, eh, sebagian malah disia-siakan.

Sebenarnya cukup banyak istilah dalam bahasa Indonesia yang senasib sepenanggungan dengan kata yang menjadi bahasan kita ini. Sebut saja kata rudin dan kata browser sebagai sedikit contoh saja di antara banyak ceceran kosakata lainnya. Sebab kalau kita jajarkan kata-kata dengan peruntungan serupa, tentu akan banyak waktu terhambur sia-sia.

Kini kita kembali ke laptop, melanjutkan pembahasan kosakata “telantar” yang satu ini. Saya memperoleh gagasan menulis artikel yang mengupas kata layap ini secara tidak sengaja.

Ketika itu saya sedang mengerjakan sebuah proyek penulisan dengan tema yang berbeda. Saya membutuhkan pandangan lain mengenai sebuah keadaan, dengan harapan kalimat yang bakal saya susun menjadi lebih unik dan menarik.

Maka, salah satu jalan yang acap saya tempuh saat berada dalam posisi semacam ini adalah membuka dan menyusuri Kamus Tesaurus. Untuk apa lagi kalau bukan mencari alternatif kata yang lebih pas menggambarkan keadaan yang hendak saya paparkan.

Empat Makna Kata Layap

Setelah sekian lama menjelajahi kamus sinonim kata, akhirnya saya berlabuh sejenak lantaran hati “terpesona” ketika menjumpai sebuah lema yang tak pernah saya temui sebelumnya. Lema yang membikin hati saya terpincut adalah layap. Saya benar-benar tak pernah menjumpai kata ini dalam kedudukannya selaku kata dasar.

Sesekali saja saya bersua dengannya dalam bentuk turunannya, yakni kelayapan, atau dalam bahasa gaulnya, ngelayap. Hayo, siapa yang suka melakukannya?

Beroleh entri menarik ini, segera saja saya menghambur menuju kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberikan empat makna yang benar-benar berbeda satu sama lain terhadap sebuah kata layap.

1.       Makna pertama ini pasti Anda kenal dengan baik ketika Anda mengetahui kata turunannya, kelayapan;

2.       Makna yang kedua, ‘menatap ke sana kemari (tentang pandangan mata)’;

3.       Ketiga, ‘rendah dekat tanah atau air (tentang burung terbang, perahu, rumah, dan sebagainya)’;

4.       Yang keempat adalah ‘mulai hendak tidur’, ‘tidur-tidur ayam’, dan ‘di antara jaga dan tidur’.

Nah, dari keempat makna di atas, saya meyakini bahwa sebagian besar orang Indonesia hanya mengenal makna yang pertama. Saya pun tak luput dari “musibah” ini, masuk ke dalam kelompok orang yang tak mengenal dengan baik kata layap.

Keadaan ini membikin saya agak terkesiap sesaat setelah menemukannya tanpa sengaja. Wow, menarik sekali, terdapat empat arti yang berbeda-beda atas satu kata “asing” ini!

Menyembulkan Potensi yang Tersembunyi

Setelah sejenak terkesiap, segera saja saya mengelus dada. Ternyata pengetahuan saya akan bahasa nasional negara ini tidak cukup baik.

Ketidaktahuan saya akan makna-makna kata itu tak lepas dari kondisi saya yang tidak pernah bersua dengan layap dalam ketiga makna tersebut. Semakin banyak saja kosakata langka yang menghampiri saya.

Namun, saya segera menemukan satu “alibi” yang bisa menghibur hati. Dengan sedikit analisis, saya menyimpulkan bahwa saya tidak sendirian selaku warga negara Indonesia yang merasa asing berhadapan dengan makna-makna itu.

Saya meyakini bahwa sebagian (besar) penduduk Indonesia berada dalam ketidakpahaman yang sama. Indikasinya, saya tak pernah menjumpai tiga makna kata layap beredar dalam komunikasi di antara penduduk negeri ini.

Ya, sudahlah. Tidak perlu disesali. Saya mencoba berpikir positif saja.

Kini saya telah mengetahui adanya “harta karun” berupa makna-makna kata yang selama ini tersembunyi di dasar bumi. Kelak, bila keadaan memungkinkan, saya akan berupaya “memasarkan” kata layap dan makna-maknanya yang tak sekadar kelayapan.

Artikel Selanjutnya
Artikel Sebelumnya

penulis:

0 komentar: