“Menghembuskan Nafas”, Dua Kesalahan dalam Satu Ungkapan

Ilustrasi menghembuskan nafas


Apakah Anda kerap mendengar orang mengucapkan kata-kata “menghembuskan nafas”? Ternyata dalam satu ungkapan itu terkandung dua kesalahan sekaligus.

Anda tentu sering mendengar atau membaca istilah 2 in 1 (two in one). Sebutan itu acap tercantum dalam kalimat-kalimat promosi di dunia bisnis. Kita akan banyak menemukan slogan ini di gerai-gerai penjualan makanan serta baliho-baliho di perempatan jalan.

Secara sederhana, istilah ini berarti dua macam barang dibungkus dalam satu kemasan. Sebut saja sebuah produk minuman sebagai contohnya. Kopi 2 in 1 berarti dalam sebuah kemasan terdapat dua macam bahan, yaitu kopi dan gula.

“Menghembuskan nafas” juga merupakan salah satu produk 2 in 1. Sayangnya, ia tak berwujud produk yang bisa dikonsumsi layaknya makanan atau minuman. Kata-kata ini menunjukkan dua macam kesalahan berbahasa Indonesia yang terjadi dalam satu ungkapan.

Kalau Anda tidak memercayai hal ini, silakan lihat KBBI. Untuk praktisnya, bukalah laman KBBI Daring. Lalu carilah makna kedua kata itu di dalamnya.

Anda akan mendapati sebuah kenyataan bahwa KBBI "enggan" memberikan keterangan tentang makna kedua kata tersebut. Ia hanya mau menunjukkan pranala (link) yang harus Anda klik agar Anda kembali ke “jalan yang benar”. Jika Anda meng-klik hipertaut itu, Anda akan mendapatkan penjelasan arti kata-kata lain yang diakui secara resmi sebagai bagian dari bahasa Indonesia.

Baca juga: HariOlahraga Nasional dan Makna Kata Olahraga

Pencarian Makna Kata Hembus dan Nafas

Berikut ini merupakan keterangan yang diberikan oleh KBBI Daring menyangkut masing-masing bagian ungkapan yang “tidak diinginkan” itu.

1. Hembus

Ketika Anda mencari arti kata hembus melalui kolom pencarian KBBI Daring, Anda tidak akan menemukannya. Kamus kepunyaan Badan Bahasa itu akan mempersilakan Anda menuju sebuah kata lain yang merupakan kata baku yang Anda cari. Kata yang disodorkan KBBI adalah embus.

KBBI telah menetapkan dua makna atas kata embus. Makna pertama adalah enyah atau pergi. Contoh penggunaannya dalam kelimat misalnya, “Embus kau dari sini.”

Sepertinya kata embus jarang sekali digunakan dalam bahasa kita, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Saya merasa agak ganjil membaca kalimat contoh di atas. Rasanya kita lebih akrab dengan dua sinonim kata embus, yakni enyah dan pergi.

Sementara itu, makna kedua yang diberikan KBBI atas kata embus adalah tiup. Saya kira, makna ini lebih cocok diterapkan ke dalam ungkapan yang menjadi tema bahasan kita kali ini. Jadi, ketimbang menggunakan bentuk tidak baku menghembuskan, lebih baik kita menggunakan kata baku mengembuskan.

2. Nafas

Seperti halnya kata hembus, kata nafas pun bukan merupakan kata baku dalam bahasa Indonesia. Bila Anda memaksakan diri mengetik kata nafas dalam kolom pencarian KBBI Daring, Anda tidak akan menemukan apa-apa di sana. KBBI Daring hanya akan mengarahkan pencarian Anda menuju kata baku yang telah ditetapkan oleh Badan Bahasa, sang pengelola KBBI.

Bentuk baku untuk kata nafas adalah napas. KBBI juga menyediakan dua arti untuk menjelaskan kata ini.

Yang pertama, napas merupakan sebuah bentuk kata benda. Dalam perannya selaku kata benda, napas mengandung arti “udara yang diisap melalui hidung atau mulut dan dikeluarkan kembali dari paru-paru”.

Selain itu, kata napas memiliki makna lain dalam bentuk adjektiva. Kata napas dalam posisinya sebagai adjektiva mengandung makna “kuning kemerah-merahan (tentang warna bulu, terutama kuda)”.

Sudah tentu makna pertama yang sesuai dengan konteks tulisan ini.

Menghembuskan Nafas Lebih Populer?

Pencarian kata-kata menghembuskan nafas

Baca juga: Nasib Pedestrian yang Serupa dengan Busway

Nah, sekarang kita sudah menemukan kata-kata yang tepat untuk mengganti kedua istilah yang tidak baku itu. Ungkapan yang selaras dengan kaidah bahasa Indonesia adalah “mengembuskan napas”.

Dengan memanfaatkan sebuah perangkat (tool) pendeteksi frekuensi pencarian kata dalam internet, saya membandingkan popularitas kata-kata yang menjadi topik bahasan tulisan ini. Hasilnya seperti yang saya duga sebelumnya.

Dalam eksperimen ini, saya membandingkan tiga ungkapan antara bentuk baku dengan bentuk tidak baku. Ketiga ungkapan yang saya bandingkan adalah hembus dengan embus, nafas dengan napas, dan mengehmbuskan nafas dengan mengembuskan napas.

Dalam jangka waktu lima tahun terakhir untuk pencarian di wilayah Indonesia, frekuensi pencarian terhadap ungkapan tidak baku hampir selalu lebih banyak dibandingkan frekuensi pencarian ungkapan baku. Grafik pencarian kata hembus hampir selalu di atas kata embus. Pencarian kata nafas selalu lebih banyak ketimbang kata napas sepanjang periode lima tahun itu.

Gabungan kedua kata itu pun menunjukkan keadaan yang serupa dengan masing-masing unsurnya. Frekuensi pencarian kata-kata menghembuskan nafas hampir selalu mengungguli mengembuskan napas.

Lalu bagaimana halnya dengan ungkapan dalam sebuah judul lagu yang pernah hits pada zamannya, “Separuh Nafas?” Silakan Anda cek sendiri, deh.

Share:

0 komentar

3 Manfaat Menulis Kosakata Langka

  Saya mendapatkan setidaknya 3 manfaat menulis kosakata langka. Menorehkan sejumlah kosakata yang jarang mengemuka telah menimbulkan sensas...