Kamis, 27 Agustus 2020

Kata Pedestrian dan Busway yang Bernasib Serupa

ilustrasi artikel nasib pedestrian yang serupa dengan busway

Menurut Anda, adakah persamaan antara kata busway dan pedestrian? Barangkali Anda tidak pernah menduga jawabannya.

Saya suka geli mendengar orang bilang, “Saya mau naik busway.” Lho, jalanan kok dinaikin, sih? Nggak bakalan nyampe di tujuan, dong.

Orang Jakarta yang akan melakukan perjalanan dalam kota sering menyebut nama itu sebagai kendaraan yang akan mereka tumpangi. Mengapa saat hendak pergi Surabaya, misalnya, ia tidak bilang mau naik rel kereta api? Atau sewaktu merencanakan untuk bepergian ke Manchester misalnya, tidak pernah bilang, “Saya pengen naik angkasa?”

Inilah yang bikin saya heran. Hanya busway, sebutan bagi jalur khusus bus itu, yang seakan-akan berubah makna menjadi jenis kendaraan. Mestinya kita konsisten memberikan sebutan bagi pelbagai jenis kendaraan dengan jalur yang dilaluinya.

Bus adalah jenis kendaraan yang—dalam kasus ini—disebut dengan sebutan jalurnya. Maka sudah seharusnya kereta api disebut rel kereta api. Pesawat terbang juga disebut dengan nama jalur yang dilaluinya, apa lagi kalau bukan angkasa?

"Kendaraan" yang Tak Bisa Berjalan

Kalau belum yakin, kita bisa melihat makna istilah ini dalam kamus. Kamus Merriam Webster memberikan dua definisi yang menjelaskan makna kata yang sedang kita bahas ini.

Definisi pertama adalah bus duct, sebuah istilah yang tidak berhubungan dengan urusan angkutan dan lalu-lintas.

Bus duct sendiri diartikan sebagai “an electric conduit prefabricated in sections and containing heavy conductors for transmission of large currents at relatively low voltage.” Jadi, istilah bus duct lebih dekat kaitannya dengan urusan teknologi.

Sementara itu, definisi kedua yang dipaparkan dalam kamus ini adalah “an expressway or a lane of one that is reserved for the exclusive use of commuter buses.” Makna ini menjelaskan bahwa busway bukanlah bus, melainkan jalur khusus yang disediakan bagi bus-bus khusus yang mengangkut orang-orang yang melakukan perjalanan rutin hampir setiap hari.

Jadi lain kali jangan naik busway, ya. Naik "kendaraan" itu tidak akan pernah membawa kita tiba di tujuan. Dan ada hal yang lebih penting, kita bisa celaka. Kalau nggak tertabrak bus atau kendaraan lain (kendaraan lain lewat busway?), kita bisa ditangkap petugas.

Baca juga: Film Tilik dan Potensi BahasaDaerah untuk Mengambangkan Bahasa Indonesia

Pedestrian yang “Senasib” dengan Busway

Hal yang sebaliknya terjadi pada “nasib” pedestrian. Apakah yang Anda gambarkan dalam benak Anda mengenai istilah ini? Anda membayangkan makhluk hidup atau benda mati ketika mendengar orang menyebut kata yang satu ini?

Barangkali yang tergambar dalam benak Anda adalah sebuah jalur yang terletak di sisi jalan raya. Di atas jalur ini orang berlalu-lalang. Atau di kebanyakan tempat di negeri kita, tampak berjejer pedagang makanan, penjual sandal jepit dan kini mungkin penjual masker dan hand sanitizer dadakan.

Jika Anda masih membayangkan keadaan semacam itu, mari kita sejenak membuka halaman Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kamus yang dikelola oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa itu memberikan penjelasan soal arti kata ini yang mungkin berbeda jauh dengan yang Anda kira.

Berikut ini adalah makna kata pedestrian menurut KBBI online alias daring dan contoh penggunaannya dalam sebuah kalimat.

pejalan kaki: jalan khusus -- memang dibuat bersusun dua”

Kamus Lengkap bahasa Inggris – bahasa Indonesia pun menyatakan hal yang senada. Kamus ini mengartikan pedestrian sebagai “pejalan kaki”.

Dipaparkannya pula sebuah contoh penggunaan kata ini dalam sebuah kalimat. “Careful pedestrians always walk on the sidewalk.”

Jelas sudah bahwa pedestrian itu makhluk hidup. Tepatnya, manusia yang sedang berjalan kaki. Ia bukan jalur atau jalan yang biasa dilalui para pejalan kaki, melainkan pejalan kaki itu sendiri.

Pada saat-saat tertentu setiap orang bisa menjelma sebagai pedestrian. Jadi, ketika sedang bertindak dalam posisi ini, tak perlu khawatir badan kita diinjak-injak orang. Justru kaki-kaki kita yang akan menginjak-injak jalur yang kita lalui.

Namun, sebagai warga yang tinggal di sebuah negara berkembang, kita mesti ekstra hati-hati. Ketika sedang berjalan kaki, jangan sampai kita menabrak penjaja kacamata atau peminta-minta yang berderet-deret di sana.

Juga kita perlu menjaga dompet dan barang-barang berharga yang kita bawa. Siapa tahu ada penjahat yang siap memangsa.

Trotoar dan Sejarahnya

Lantas, apa sebutan untuk jalur yang digunakan oleh para pejalan kaki yang sebenarnya? Sarana itu biasa kita sebut dengan istilah trotoar.

KBBI memaknai sebutan ini sebagai tepi jalan besar yang sedikit lebih tinggi daripada jalan tersebut, tempat orang berjalan kaki.

Keberadaan trotoar telah berlangsung lama di muka bumi ini. Sebuah artikel mengupas awal mula trotoar. Ternyata, keberadaan jalur khusus bagi para pejalan kaki itu bermula dari negara Turki.

Meskipun bentuknya masih sangat sederhana, dalam rentang tahun 2000 – 1990 sebelum Masehi, orang bisa menemukan trotoar di kota kuno Anatolia. Pada masa itu, jalur pejalan kaki tidak memiliki pembatas sehingga para pejalan kaki harus “bersaing” dengan penunggang kuda dan jenis-jenis angkutan kuno lainnya.

Perkembangan trotoar pada era modern tak bisa dilepaskan dari dua kota utama di Eropa, yakni London dan Paris. Bentuk trotoar yang lebih tinggi ketimbang jalan di sampingnya mulai dibuat di kota London. Tujuannya tak lain untuk melindungi pejalan kaki dari kendaraan yang melaju di jalanan.

Sementara itu, Paris merupakan salah satu kota yang memanjakan pejalan kaki. Pemerintah di sana menyediakan trotoar yang nyaman. Selain itu, sebutan trotoar sendiri diadopsi dari bahasa Prancis trottoir.

Persamaan antara Busway dan Pedestrian

Kembali pada pertanyaan yang saya sampaikan di awal tulisan, “Apa persamaan antara busway dan pedestrian?”

Saya melihat setidaknya terdapat dua keadaan yang sama di antara keduanya. Dalam hal ini mereka mengalami nasib yang serupa.

Persamaan pertama, kedua istilah itu berkaitan dengan urusan lalu lintas. Sedangkan persamaan yang kedua, keduanya sering digunakan pada tempat yang tidak semestinya.

Sekarang kita bahas perbedaan antara keduanya. Busway yang sering dianggap sebagai bus itu merupakan benda tak bernyawa, sama dengan bus. Sementara itu, pedestrian adalah makhluk hidup yang sering diperlakukan sebagai benda mati.

Itulah dua ungkapan barkaitan dengan lalu lintas yang sering digunakan secara kurang pas. Apakah Anda pernah menjumpai istilah-istilah lain yang “senasib sepenanggungan” dengan busway dan pedestrian? Ayo, ceritain, dong.

Artikel Selanjutnya
Artikel Sebelumnya

penulis:

0 komentar: