Sabtu, 22 Agustus 2020

Sektor Perumahan, Mula Berkembangnya Kata “Developer”

Sektor Perumahan, Mula Berkembangnya Kata “Developer”


Kata “developer” menjadi sebuah istilah yang cukup masyhur belakangan ini. Selain di sektor perumahan, kata ini sering disebut dalam dunia Teknologi Informasi.

Baru-baru ini saya punya sedikit urusan dengan developer perumahan. Kala itu saya membutuhkan sehelai bukti pembayaran PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) atas tanah dan bangunan rumah yang saya beli dari developer itu.

Telah lebih dari lima tahun sang developer tak kunjung menyelesaikan urusan pemecahan sertifikat rumah milik warga. Akibatnya, pemilik rumah harus berurusan dengan developer saat membutuhkan dokumen pembayaran PBB atas tanah dan bangunan dimaksud.

Kabarnya, banyak juga developer-developer lain yang melakukan hal serupa. Menunda-nunda pemecahan sertifikat entah karena alasan apa. Padahal pembeli telah memiliki semua persyaratan yang dibutuhkan untuk mendapatkan sertifikat tanah miliknya.

Saya tidak akan membahas lebih lanjut urusan sertifikat tanah atau masalah yang berkaitan dengan PBB. Kali ini saya lebih tertarik pada kata “developer” yang cukup banyak saya sebut dalam bagian awal tulisan ini.

Istilah developer memang sangat era kaitannya dengan proyek perumahan. Sebenarnya asal kata yang membentuk kata ini memiliki arti yang beragam.

Sebuah kamus bahasa Inggris – bahasa Indonesia membeberkan sejumlah arti kata “develop” yang merupakan kata dasar dari kata “developer”. Dalam kamus itu disebutkan lima makna kata “develop”, yakni tumbuh, berkembang; membangun, mengembangkan; memperkuat; mencetak serta menghasilkan, mengembangkan.

Namun entah mengapa saya lebih sering menemui kata developer digunakan untuk menyebut perusahaan yang bergerak dalam bidang pembangunan perumahan.

Jadi, kata developer seakan-akan sudah menjadi hak milik para pebisnis yang mempunyai usaha membangun rumah.

Baca juga: Susahkah Menyatakan dalam Bahasa Indonesia Ungkapan “Free Ongkir”?

Meluasnya Penggunaan Kata “Developer”

Akhir-akhir ini penggunaan kata developer telah melebar ke sektor-sektor di luar perumahan. Di luar bidang perumahan, dunia internet menjadi salah satu sektor yang turut mengecap “nikmat”-nya kata developer ini.

Kini, para pembuat dan pengelola program-program yang dijalankan di dunia maya menyebut diri mereka dengan sebutan developer. Misalnya saja developer program-program yang dijalankan dalam sistem android atau sistem operasi gawai lainnya.

Akibatnya, penggunaan istilah developer tampaknya semakin luas. Mengingat sifat jagat internet yang memiliki kemampuan menyebar sangat cepat, maka pemakaian istilah-istilah tertentu seperti developer akan berkembang dengan kencang.

Barangkali kelak kita akan mendapati kenyataan bahwa dalam perbincangan Teknologi Informasi, bahasa Indonesia akan menjadi minoritas. Padahal perbincangan itu terjadi antar penduduk Indonesia dan dalam wilayah negara Republik Indonesia.

Rasanya, hingga kini upaya mensosialisasikan sebutan “pengembang” bagi para pebisnis perumahan saja belum kelar. Kita masih lebih sering mendengar sebutan developer ketimbang kata pengembang dalam pelbagai bentuk obrolan dan berita menyangkut bidang perumahan.

Kini, pekerjaan rumah para pejuang bahasa bertambah. Dan barangkali tambahan PR-nya kali ini jauh lebih sulit diselesaikan.

Perkembangan Lainnya Istilah “Develop”

Selama masa pandemi Covid-19 ini, beberapa kali saya mengikuti acara webinar yang membahas aktivitas-aktivitas dunia blogging. Dalam sejumlah kesempatan itu, acap kali saya mendengar si pembicara menyebut-nyebut kata “develop” dalam materinya yang disampaikan menggunakan bahasa Indonesia.

“Dalam persaingan yang keras ini, kita harus bisa men-develop program kita lebih baik dibandingkan competitor kita.” Kira-kira seperti itu salah satu contoh kalimatnya.

Rupanya semakin banyak orang ingin memopulerkan kata develop beserta semua kata turunannya. Istilah develop hanya merupakan bagian sangat kecil dari sedemikian banyak istilah-istilah asing yang berkeliaran dalam percakapan-percakapan dan tulisan-tulisan berbahasa Indonesia.

Mengamati perkembangan penggunaan istilah-istilah asing yang semakin meluas, tak pelak timbul kekhawatiran dalam hati. Akankah istilah-istilah domestik semacam “pengembang”, “berkembang” dan “mengembangkan” bakal hilang dari peredaran karena kalah populer dibandingkan istilah-istilah asing yang (mungkin) terdengar lebih keren?

Artikel Selanjutnya
Artikel Sebelumnya

penulis:

0 komentar: