-->

Dirgahayu Adalah Kata Istimewa di Bulan Merdeka

Post a Comment

Dirgahayu adalah sebuah kata yang marak diucapkan orang di bulan Agustus. Puncaknya, tanggal 17 Agustus bakal menjelma sebagai hari "parade ucapan dirgahayu".

dirgahayu adalah kata istimewa

Ilustrasi ucapan "Dirgahayu Republik Indonesia. Gambar oleh Liliek Pur.

Ramainya ucapan yang mengandung kata dirgahayu tak lepas dari momen peringatan hari kemerdekaan bangsa kita. Kosakata ini biasanya digunakan sebagai bagian dari ucapan selamat atas kemerdekaan Indonesia serta harapan agar negara ini berumur panjang dan tentu saja warganya hidup sejahtera.

Ucapan paling umum yang kerap kita temukan biasanya mengandung kata-kata “Dirgahayu Indonesia”, atau “Dirgahayu Republik Indonesia”, atau “Dirgahayu RI”.

Baca juga peringatan tentang adanya kalimat yang membunuh.

Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, kata dirgahayu adalah kosakata impor yang berasal dari bahasa Sanskerta. Kata ini bermakna 'panjang umur' atau 'berumur panjang'.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menunjukkan asal-usul dirgahayu. Dalam bausastra ini, kata dirgahayu disebut berasal dari bahasa Sanskerta, yakni dirghayus. Dalam bahasa asalnya, dirghayus berarti ‘umur panjang’.

Maka tak heran bila kata ini selalu "merajalela" setiap datang bulan Agustus. Melalui kata ini, banyak orang dan lembaga atau instansi mengungkapkan harapan mereka agar negara Republik Indonesia panjang usia.

Dirgahayu Adalah Kata yang Memiliki Makna Istimewa

Terkait dengan hal ini, sering timbul pertanyaan dalam hati saya. Mengapa orang lebih suka menggunakan ucapan dirgahayu untuk mendoakan negara kita yang sedang berulang tahun? Mengapa hampir tak pernah saya menemukan ungkapan lainnya semacam 'semoga panjang umur' misalnya?

Sebaliknya, ketika menjumpai kerabat atau teman yang berulang tahun, orang lebih senang menggunakan ungkapan 'semoga panjang umur'. Mengapa nyaris tak pernah muncul kata dirgahayu? Apakah istilah dirgahayu sengaja diciptakan untuk mendoakan negara kita tercinta?

Sudah cukup lama sebenarnya pertanyaan ini bergelayut dalam benak saya. Namun karena saya pikir hal itu bukan sesuatu yang patut dipikirkan secara mendalam, saya biarkan saja pertanyaan itu tersimpan rapi di dalam hati.

Mungkin suatu saat akan muncul sendiri jawabnya. Atau mungkin pula tidak.

Baca juga: Bagaimana Cara Memperbaiki Kalimat yang Sepanjang Kereta Api?

Dalam KBBI Daring, sepertinya kata dirgahayu memiliki makna khusus. Kamus itu mengartikan kata ini sebagai berikut:

Berumur panjang (biasanya ditujukan kepada negara atau organisasi yang sedang memperingati hari jadinya).”

Makna dasarnya serupa, yakni 'berumur panjang'. Namun KBBI menambahkan keterangan bahwa kata ini biasanya ditujukan kepada negara atau organisasi yang sedang memperingati hari jadinya. KBBI memberi contoh “panjang umur Republik Indonesia”. 

Nah, sekarang sudah jelas, bukan? Dirgahayu memang memiliki “kedudukan” yang istimewa. Nggak heran bila masyarakat Indonesia suka mengedepankan istilah khas ini ketika mengapresiasi kemerdekaan negeri.

Duluan Masyarakat atau KBBI dalam Memaknai Kata Dirgahayu?

Bisa saja kemudian timbul semacam pertanyaan klasik, “Duluan ayam atau telur?” Dalam konteks ini, kondisi mana yang lebih dulu muncul? Kebiasaan orang menggunakan ungkapan dirgahayu atau KBBI memberi makna kata dirgahayu?

Barangkali yang duluan nongol adalah kebiasaan orang menggunakan istilah ini saat negara berulang tahun, lalu KBBI menggunakan kebiasaan ini untuk memaknai kata dirgahayu. Atau sebaliknya, KBBI memberi makna kata dirgahayu sedemikian rupa sehingga membuat banyak orang mempraktikkan ucapan mereka sesuai “titah” KBBI.

infografik arti kata dirgahayu
Infografik tentang asal dan arti kata dirgahayu. Sumber data: kbbi.kemdikbud.go.id dan tesaurus.kemdikbud.go.id.

Saya kira salah satu kata kuncinya adalah kata biasanya dalam keterangan yang disampaikan oleh KBBI. Menurut KBBI sendiri, kata biasanya berarti 'menurut apa yang sudah dilazimkan' atau 'lazimnya'.

Bila suatu kegiatan dilakukan menurut apa yang sudah dilazimkan, mestinya kegiatan itu sudah sering dijalankan. Dengan menghubungkan kedua pernyataan itu, bisa disimpulkan bahwa penggunaan istilah dirgahayu dalam ucapan bernada doa bagi negara (Republik Indonesia) telah menjadi kebiasaan dalam masyarakat.

Jika demikian, akan timbul pertanyaan lanjutan, “Mengapa orang-orang dan lembaga-lembaga itu menggunakan istilah dirgahayu bukan yang lain?"

Saya belum berhasil menemukan penjelasan mengenai hal ini. Saya hanya menduga bahwa “ramai-ramai” penggunaan kata dirgahayu semasa peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia semata-mata karena kebiasaan mengikuti apa yang telah dilakukan orang sebelumnya.

Jadi, duluan ayam atau telur? Entahlah.

Yakinlah, Hanya Ada Satu Indonesia

Ada hal menarik lainnya yang kerap terjadi dalam masa peringatan kemerdekaan negara ini. Setidaknya, saya mencatat dua keanehan yang acap dilakukan masyarakat Indonesia ketika merayakan kemerdekaan negara kita.

Keganjilan pertama adalah adanya “anggapan” bahwa terdapat banyak negara Indonesia di muka bumi ini. Sementara itu, keganjilan kedua menyangkut banyaknya doa sia-sia yang dipanjatkan sebagian anggota masyarakat kita.

1. Anggapan tentang banyaknya negara Indonesia

Saya meyakini bahwa Anda sering mendengar atau membaca ungkapan ini, “Dirgahayu Republik Indonesia Ke-75”.

Wah, sejak kapan negara Indonesia mampu berkembang-biak hingga jumlahnya mencapai puluhan? Ayolah, sampai sekarang, hanya ada satu Indonesia.

Saya sudah mencoba mencari data ke mana-mana dan tidak menemukan Indonesia yang lain. Beberapa sumber menyebutkan angka yang berbeda-beda ketika menyatakan jumlah negara yang ada di dunia.

Namun, dari semua daftar nama-nama negara di seluruh dunia yang telah saya periksa, saya hanya menemukan satu nama Indonesia. Tidak ada satu pun sumber data yang mencantumkan dua Indonesia, apalagi lebih dari tujuh puluh.

2. Doa yang sia-sia

Saya mengira Anda pernah menemukan kalimat semacam ini, “Dirgahayu HUT RI”. Ucapan dengan kalimat seperti itu biasanya terdapat pada spanduk-spanduk di pinggir jalan dan iklan-iklan di media massa.

Saya kira ini sebuah doa yang sia-sia. Buat apa mendoakan HUT? Biarkan saja ia datang ketika tiba masanya.

Alangkah lebih baik kita menggunakan waktu berharga yang tidak banyak itu untuk mendoakan negara kita yang sedang berulang tahun. Dengan doa yang dipanjatkan banyak warganya, semoga panjang usia negara kita tercinta. 

Nah, senyampang di bulan Agustus, saya mengucapkan “Dirgahayu Republik Indonesia”. Dirgahayu adalah kata bermakna baik dan bakal menemukan momen yang tepat diucapkan sekarang ini.

Artikel Terkait

Post a Comment