Jumat, 17 September 2021

Beratnya Menulis Artikel Bertema Bahasa Indonesia

Dengan kenekatan yang tak terukur, saya memberanikan diri menulis sejumlah artikel bertema bahasa Indonesia. Bahkan, makin ngawur, saya membuat situs dengan topik yang “nggak kira-kira” itu.

ilustrasi penulis

Saya bukan seorang ahli ilmu bahasa, atau linguis istilahnya. Secara formal, saya tidak pernah belajar bahasa Indonesia, kecuali sekadar materi dasar yang saya dapatkan saat bersekolah di tingkat dasar dan menengah.

Saya hanya seorang warga negara Indonesia yang menaruh perhatian yang cukup besar terhadap perkembangan bahasa persatuan kita. Tak lebih daripada itu.

Mengapa Menulis Artikel Bahasa Indonesia?

Lantas, mengapa saya tertarik pada pembahasan mengenai bahasa Indonesia, dan kemudian menghasilkan sejumlah tulisan dengan mengusung tema yang sama? Entahlah, saya tidak mengetahui dengan pasti jawabannya.

Mungkin karena saya tidak memiliki satu pun keahlian yang bisa saya andalkan, sedangkan kebutuhan untuk menyalurkan minat menulis demikian tinggi, maka saya memutuskan untuk melakukan aksi nekat itu.

Ada juga kemungkinan lainnya. Hati saya acap merana saat menyaksikan dengan mata kepala sendiri, dengan enteng orang-orang “menyepelekan” bahasa persatuan negara kita. Saya berharap bahasa “yang sudah capai-capai diciptakan dan dikembangkan” itu lebih dihargai, setidaknya di negeri sendiri.

Simaklah kisah tentang “nasib buruk” yang dialami oleh pedestrian dan busway.

Barangkali hal-hal itulah yang membikin perasaan saya bergolak, lalu melampiaskan keresahan ini dalam wujud tulisan. Jadi, Anda tak perlu merasa heran jika menemukan kualitas tulisan saya yang ala kadarnya dan begitu-begitu saja.

Dalam buku Ajaib, Istimewa, Kacau, Andre Moller pernah mengungkapkan keheranannya atas sikap masa bodoh yang diperlihatkan banyak orang Indonesia terhadap bahasa mereka. Begini ungkapan yang ditulis Pak Andre,  “... dasar-dasar tata bahasa Indonesia ini semestinya dikuasai oleh setiap orang yang pernah lulus dari bangku SD ...”.

Sejalan dengan ungkapan itu, kadang-kadang saya pun merasakan keheranan serupa dengan yang dirasakan pencinta bahasa Indonesia asal Swedia itu. Jika orang dari negeri seberang saja begitu acuh dengan bahasa kita, mengapa kita yang “memiliki” bahasa itu justru mengabaikannya?

Nekat Membawa Manfaat

Dalam dunia bisnis, kita mengenal sebuah semboyan pemicu keberanian, “Kalau tidak nekat, kita tidak akan pernah memulai usaha”. Perasaan itu pula yang saya sandang ketika mulai memberanikan diri membahas suatu materi yang tidak benar-benar saya kuasai.

Ada dampak baik menyertai kenekatan itu. Saya menjadi semakin banyak mencari referensi ihwal bahasa Indonesia dan persoalan-persoalan yang terdapat di dalamnya. Tentu saja saya berusaha mendalaminya.

Artikel-artikel yang saya comot dari dunia maya dan buku-buku yang saya dapatkan di dunia nyata menjadi andalan untuk menimba wawasan terkait urusan bahasa. Berkat bacaan-bacaan itu, saya semakin menyadari akan kekurangan pengetahuan dan kemampuan saya dalam bidang ilmu bahasa Indonesia.

Selama ini, banyak urusan tata bahasa yang tidak pas telah saya terakan dalam tulisan-tulisan saya. Saya pun tak segan membuka-buka kembali artikel-artikel yang pernah saya terbitkan, dan memperbaikinya sesuai pengetahuan yang baru saya dapatkan.

Dengan cara ini, saya berharap diri ini menjadi lebih pintar dibandingkan dengan diri saya sebelumnya. Harapan selanjutnya, semakin deras tulisan mengalir dari jemari tangan saya.

Beban Berat Menulis Tema Bahasa Indonesia

Sesungguhnya banyak hal berat yang bisa menghalangi saya menulis tema ini, selain tentu saja urusan-urusan yang berhubungan dengan teknik menulis.

Salah satu wujud beban berat yang menggelayuti saya adalah perasaan takut salah dalam urusan tata bahasa ketika saya menuilis artikel bertema bahasa Indonesia. Serasa ada sejumlah (calon) pembaca yang selalu mengintip saya menulis dan siaga menjulurkan lidah mereka ketika menemukan ejaan yang salah, atau tanda baca yang tidak pada tempatnya, atau struktur kalimat yang ganjil, atau ....

Baca juga ulasan mengenai kalimat pembunuh.

Tulisan yang membahas bahasa Indonesia kok tata bahasanya kusut-masai? Waduh, apa kata dunia?

Tak berhenti sampai di sini. Perasaan semacam ini kemudian menjalar ketika saya menulis topik yang berbeda. Sejak saya memproklamirkan diri sebagai penulis tema bahasa Indonesia, saya mendapat tambahan beban mental semacam itu dalam setiap aktivitas menulis yang saya lakukan.

Lalu mengapa saya tidak menyudahi saja menulis tema bahasa Indonesia agar beban itu tidak terus bergelayut di pundak saya?

Saya menyaksikan kecenderungan yang tidak menguntungkan semakin marak terjadi di negeri ini. Semakin lama semakin banyak saja “penyelewengan” bahasa terjadi di negara tempat bahasa itu ditetapkan sebagai bahasa resminya.

Sedikit Sumbangan Lebih Baik

Tidak bermaksud menyejajarkan diri saya dengan mereka jika saya harus menyebut dua nama ini, Ivan Lanin dan Andre Moller. Pak Ivan tidak berlatar belakang ilmu bahasa dan Pak Andre bukan orang yang berasal dari sebuah negara yang mayoritas penduduknya berbahasa Indonesia. Namun kita bisa merasakan semangat mereka tak pernah kendur memperjuangkan perkembangan bahasa kita.

Nah, aktivitas yang dilakukan oleh kedua orang yang namanya saya sebut di atas meyakinkan saya bahwa kenekatan yang saya lakukan cukup beralasan. Kalau orang lain boleh melakukannya, mengapa saya tidak?

Jadi, meskipun tidak banyak upaya yang bisa saya jalankan, dan dengan keterbatasan yang tetap melekat pada diri saya hingga sekarang, saya berpikir enteng saja. Lebih baik menyumbang sedikit ketimbang tidak ada sama sekali sumbangan saya terhadap “keselamatan” bahasa Indonesia.

Seperti menulis topik-topik lainnya, beban mental menulis tema bahasa Indonesia akan terus ada. Namun hal itu tak boleh menyurutkan hasrat untuk turut menjaga bahasa kebanggaan kita.

Semoga saya mampu menjaga istikamah dan terus menghasilkan tulisan-tulisan bertema bahasa Indonesia.

Sumber gambar ilustrasi: Tima Miroshnichenko dari Pexels

Artikel Selanjutnya
Artikel Sebelumnya

penulis:

0 komentar: