Kamis, 08 Oktober 2020

Kaurfastor Subbagyantor Yanma, Bahasa Apa Ini?

 

Ilustrasi Bahasa Apa

Kaurfastor Subbagyantor Yanma, Anda tahu makna deretan kata ini? Saya menemukan sederet kata aneh ini dalam sebuah pemberitaan media kemarin.

Perseteruan antara Kasat Sabhara dengan Kapolres Blitar sepertinya akan segera usai. Salah satu indikasinya terlihat saat mereka berpelukan. Semoga hubungan kedua pejabat Kepolisian itu akan semakin baik pada masa mendatang.

Di luar urusan pertikaian kedua pejabat yang sempat menjadi berita viral itu, saya menemukan hal yang cukup mencengangkan ketika membaca berita di kompas.com kemarin. Setiap kali membaca kabar mengenai Kepolisian, saya sering menemukan sejumlah “istilah asing”. Hal yang sama saya dapati ketika membaca berita seputar rekonsiliasi pejabat Polres Blitar itu.

Saya yakin, Anda telah akrab dengan kata ‘Kapolres’. Istilah ini kerap menghiasi pemberitaan media-media di Indonesia. Dalam pembicaraan sehari-hari pun, orang sering menyebut kata ini.

Bagaimana dengan istilah 'Kasat Sabhara'? Sepertinya kata ini tak sepopuler istilah Kapolres. Namun, dengan meraba-raba, mungkin kita bisa mengira-ngira artinya.

Kata kasat yang menjadi bagian dari istilah ini tidak berhubungan dengan kasatmata, lho. Kasat merupakan sebuah akronim yang sudah familier menjadi sebutan suatu posisi dalam organisasi. Kepanjangannya adalah Kepala Satuan.

Bagaimana dengan Sabhara? Istilah ini sudah lebih spesifik dibandingkan Kasat. Saya sempat berniat untuk mencari makna kata ini melalui mesin pencari.

Beruntung sekali saya mengingat KBBI. Dan kabar baiknya, kamus bahasa Indonesia itu telah memuat akronim yang satu ini. Menurut KBBI, Sabhara merupakan akronim untuk menyebut salah satu nama satuan dalam Kepolisian, yaitu Samapta Bhayangkara.

Akronim populer Kapolres sudah kita ketahui sejak lama. Akronim Kasat Sabhara telah pula kita pahami maknanya setelah melalui beberapa kali penelusuran. Kini, kita tiba pada “istilah asing” yang benar-benar asing di telinga.

Baca juga: Hari Olahraga Nasional dan Makna Kata Olahraga

Kaurfastor Subbagyantor Yanma

“Adapun Agus kini dipindahtugaskan ke Polda Jawa Timur sebagai Kaurfastor Subbagyantor Yanma.” Saya terenyak membaca kutipan berita kompas.com ini. Bukan soal pemindahtugasan Pak Agus dari Polres Blitar ke Polda Jawa Timur yang mengherankan saya.

Yang bikin saya tercengang adalah penyebutan sebuah istilah yang sangat asing di telinga saya: Kaurfastor Subbagyantor Yanma. Apa pula ini maksudnya?

Untung saja saya membaca berita ini sehingga saya tahu bahwa Kaurfastor Subbagyantor Yanma adalah sebutan untuk sebuah jabatan di Kepolisian. Jika saya menemukan deretan kata ini berdiri sendiri, saya akan menyangka bahwa kata-kata ini merupakan istilah asing yang berasal dari bahasa Thailand atau bahasa Rusia.

Rasa penasaran akan istilah “aneh” ini telah membawa saya kembali berseluncur dengan mengendarai sebuah mesin pencari yang terkenal sakti. Penelusuran yang saya lakukan menghasilkan sejumlah istilah yang tak kalah mencengangkan dibandingkan iatilah yang telah saya sebutkan, Kaurfastor Subbagyantor Yanma.

Coba perhatikan sederet kata “ganjil” ini: Subbagharbangling, Urrenmin, atau Urpamprot. Apakah Anda paham dengan istilah-istilah itu? Jika terus dicari, deretan akronim dalam institusi ini akan menjadi panjang sekali.

Mungkin kita bisa menduga-duga makna beberapa penggalan kata dalam istilah-istilah itu. Misalnya saja subbag. Namun penggalan-penggalan lainnya barangkali hanya Tuhan dan orang-orang di Kepolisian yang tahu.

Setelah melihat deretan akronim ajaib itu, saya menjadi tidak heran lagi dengan akronim-akronim “receh” semacam tilang, polantas, dan curanmor. Itu mah biasa banget.

Omong-omong, masih penasaran nggak sama Kaurfastor Subbagyantor Yanma? Kalau masih penasaran, saya kasih tahu maknanya. Kaurfastor Subbagyantor Yanma merupakan sederet akronim dengan kepanjangan masing-masing sebagai berikut:

  • Kepala Urusan Fasilitas Kantor (Kaurfastor)
  • Subbagian Pelayanan Kantor (Subbagyantor)
  • Pelayanan Markas (Yanma)

Baca juga: PilihKartu Member Koperasi atau Kartu Anggota Anu Mart?

Aturan Pembentukan Akronim

Mengutip “Buku Pintar EYD, Bahasa & Sastra Indonesia”, terdapat dua aturan dalam membuat akronim. Kedua aturan itu adalah:

  1. Jumlah suku kata akronim tidak melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia (tidak lebih dari tiga suku kata).
  2. Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata bahasa Indonesia yang lazim agar mudah diucapkan dan diingat.
Beberapa akronim yang saya tampilkan sebagai contoh di atas tidak memenuhi sebagian atau semua kaidah pembentukan akronim. Bila penggunaan akronim-akronim itu sebatas di kalangan internal, mungkin tidak akan menimbulkan masalah.

Namun, selain urusan dengan kaidah pembentukan akronim, ada satu hal yang mengusik pikiran saya. Dengan jumlah akronim yang sangat banyak dan panjang-panjang, apakah Kepolisian tidak bingung sendiri?

Apalagi kalau akronim-akronim itu telah menjadi bagian dari pemberitaan media. Tentu saja istilah-istilah itu akan menjadi konsumsi masyarakat. Saya membayangkan para pembaca atau pemirsa yang harus mengerutkan kening memikirkan makna istilah-istilah ajaib itu. Semoga tidak ada yang keliru mencarinya dalam kamus bahasa Thailand atau Rusia.

Artikel Selanjutnya
Artikel Sebelumnya

penulis:

0 komentar: