Di-mix Aja Buah-Buahannya, Biar Nge-blend Rasanya

 

Di-mix Aja Buah-Buahannya,  Biar Nge-blend Rasanya

“Di-mix aja buah-buahannya, biar nge-blend rasanya.” Sepenggal kalimat itu terngiang di telinga saya hingga beberapa hari seusai saya mendengarnya dari kanal Youtube.

Suatu sore yang cerah, saya sedang asyik mengutak-atik kalimat, berusaha menuntaskan sebuah konsep artikel yang mangkrak. Mendadak istri saya menghampiri dan menyodorkan gawainya. Ia memperlihatkan sebuah tayangan video kuliner di kanal video paling populer.

Ia memang tengah bergairah mempelajari berbagai resep makanan dan minuman melalui media daring. Sesuatu yang menggembirakan karena saya bisa lebih sering menikmati kuliner hasil praktik resep-resep baru.

Menonton video kuliner acap kali membikin air liur menetes. Hal ini pun terjadi ketika istri saya memperlihatkan potongan video yang berkisah tentang seseorang yang sedang mempromosikan cara membuat es buah.

Mulanya, koki menyampaikan daftar bahan-bahan yang harus disiapkan guna menghasilkan es buah yang segar. Setelah paparan mengenai bahan-bahan disampaikan, segera saja ia menjelaskan tata cara membuat es buah yang katanya berasa sedap itu.

“... lalu buah-buahan itu di-mix agar rasanya nge-blend, ...” Begitulah salah satu penggalan kalimat yang diucapkannya tatkala menjelaskan proses pembuatan salah satu produk andalannya.

Bukan sesuatu yang aneh mendengar orang mengucapkan kalimat dengan sisipan beberapa kata “keren” yang berasal dari negeri seberang. Namun tetap saja ucapan si pembawa acara bikin saya termangu sejenak.

Ujarannya itu telah mengalihkan benak saya dari bayangan sedapnya es buah nan segar. Saya tak lagi memperhatikan penjelasan sang koki seusai ia me-mix buah-buahan hingga rasanya nge-blend itu.

Bukan berarti saya tak tergiur dengan sajian es buah, lho. Jenis minuman itu tetap merupakan salah satu produk penghilang dahaga favorit saya.

Dua kata yang diucapkan Youtuber itu lebih menarik perhatian saya ketimbang aksi sang koki menyeruput segelas es buah, kemudian mengangsurkan jempol tangan kanannya ke arah kamera. Istilah “di-mix” dan “nge-blend” kemudian bermukim dalam benak saya sekian lama.

Baca juga: Suka Menggunakan Kata Laundry? Padahal Banyak Kosakata Lainnya

Bersenjatakan KBBI dan Kamus Tesaurus

Mendapati hal demikian, lalu timbul pertanyaan dalam benak saya. Sedemikian susahkah menemukan padanan kedua kata itu dalam bahasa kita? Atau memang ia amat menyukai istilah-istilah semacam itu?

Saya kitra tidak susah menemukan kedua kata itu dalam bahasa Indonesia. Dari konteks kalimat yang dituturkannya, saya menduga sang koki bermaksud mengaduk bermacam-macam buah yang menjadi bahan baku es buah itu agar rasanya bercampur menjadi satu.

Padahal, dengan membuka-buka Kamus Tesaurus saja, kita bisa langsung menemukan deretan panjang pelbagai kosakata yang bisa digunakan untuk menggantikan kata-kata asing yang dipaksa meng-Indonesia itu.

Berdasarkan kamus bahasa Inggris – bahasa Indonesia, istilah mix dan blend memiliki makna yang serupa. Beberapa kamus mengartikan mix dan blend sebagai mencampur.

Dalam konteks kalimat yang diucapkan sang koki, kedua kata “jadi-jadian” itu bisa dijelaskan berikut ini.

1. Di-mix

Saya menduga, si penutur bermaksud mengingatkan pemirsa agar mencampur buah-buahan dalam sebuah wadah. Jadi, dalam konteks ini, tentu saja kata dicampur bisa menggantikan ungkapan di-mix.

Jika ingin menggunakan variasi lainnya, bisa juga memilih kata-kata diaduk, dibancuh atau disabur. Kamus Tesaurus bahasa Indonesia bahkan menampilkan 20 kata sebagai sinonim kata mencampur, meskipun tidak semuanya bisa digunakan dalam konteks ini.

2. Nge-blend

Dari kalimat yang dituturkannya, saya mengambil kesimpulan bahwa dengan mengucap nge-blend, si penutur hendak menyatakan bahwa buah-buahan yang disatukan itu rasanya akan menyatu.

Lagi-lagi, dalam urusan ini, Kamus Tesaurus bisa menjadi solusi. Kamus ini memberikan beberapa sinonim untuk kata menyatu seperti berpadu, berbaur atau lebur.

Tentu saja tidak semua kata sinonim itu bisa digunakan dalam konteks kalimat dimaksud. Dengan mencari makna kata-kata itu dalam KBBI, kita bisa memilih salah satu di antara kata-kata itu.

Baca juga: Dari Recruitment Hingga Resign Menyerbu Bagian Personalia

Berbahasa Indonesia sesuai Kemampuan

Barangkali bukan ketidaktahuan yang menjadi faktor penyebab munculnya banyak sisipan istilah asing ketika orang bertutur dalam bahasa Indonesia. Banyak alasan lain orang gemar menggunakan istilah-istilah asing meskipun bahasa Indonesia telah menyediakan banyak kosakata yang bisa digunakan.

Jika persoalannya bukan ketidaktahuan, memang tidak akan segampang itu solusinya.

Mumpung kita sedang memperingati Hari Sumpah Pemuda, mari sejenak mengingat hari bersejarah itu. 92 tahun silam, dalam Kongres Pemuda II, para pemuda Indonesia telah menetapkan bahasa Melayu, yang kemudian kita kenal sebagai bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan.

Dalam kisah yang saya sitir dari kompas.com, terdapat cerita yang sangat menarik di balik penetapan bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan kita. Kala itu, bahasa Melayu telah digunakan secara luas dalam pergaulan di seluruh kepulauan Nusantara.

Di pihak pemerintah kolonial Belanda sendiri terjadi perbedaan pendapat menyangkut penggunaan bahasa di daerah jajahan mereka. Sebagian orang menganjurkan pemerintah menetapkan bahasa Belanda sebagai bahasa resmi bagi seluruh penduduk Hindia Belanda.

Namun, ada pula yang dengan kesombongannya menganggap bahasa Belanda bernilai terlampau tinggi bagi penduduk pribumi. Dengan demikian, menurut pendapat golongan ini, warga asli negeri ini tidak pantas menggunakan bahasa mereka.

Sebuah ketidaksepahaman yang menguntungkan pihak kita. Celah itu menjadi salah satu pembuka kesempatan bagi para pemuda yang dipelopori oleh Moh. Yamin mengangkat bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Pengakuan bahasa persatuan itu lantas menjadi butir ketiga dari sumpah yang mereka ikrarkan pada hari yang sangat bersejarah itu.

Mengingat tidak gampangnya menyatukan tekad sekian banyak pemuda dari pelbagai suku, bahasa, dan organisasi kedaerahan, alangkah baiknya kita menghargai upaya keras mereka.  Salah satu caranya dengan berusaha menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

Dalam urusan ini, saya tak pernah menetapkan target yang muluk-muluk, kecuali menjalaninya sesuai kemampuan saja. Yang penting tebersit niat dan terpancar semangat untuk belajar dan mempraktikkan ilmu yang saya peroleh dari berbagai sumber.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2020.

Bagikan:

0 komentar