Dari Recruitment Hingga Resign Menyerbu Bagian Personalia

ilustrasi bagian personalia

Bila Anda bekerja pada Bagian Personalia, mungkin Anda harus rela menerima segudang istilah asing hampir pada seluruh proses kerja yang Anda lakukan.

Sebelum masuk ke pembahasan soal proses kerja pada Bagian Personalia, kita ulas lebih dulu penyebutan bagian yang mengelola Sumber Daya Manusia (SDM) ini. Terdapat banyak versi penyebutan unit kerja yang menangani urusan kepegawaian. Sejauh yang saya ketahui sebagian besar merupakan istilah asing yang langsung diterapkan oleh banyak perusahaan.

Istilah paling umum adalah Human Resource Development (HRD). Istilah ini dimaksudkan sebagai penekanan bahwa unsur manusia merupakan sumber daya yang penting sebagai penggerak roda perusahaan. Oleh karena itu, penamaan bagian ini dengan sebutan yang mengandung frasa human resource karena ada harapan pengelolaan SDM secara baik.

Pada perkembangan selanjutnya muncul istilah human capital untuk menyebut pegawai yang bekerja pada suatu perusahaan. Pada periode ini peran SDM diperkuat menjadi faktor modal atau kapital yang merupakan salah satu unsur penting yang akan menentukan besarnya sebuah perusahaan. Maka beberapa perusahaan besar mengganti nama departemen yang menangani urusan kepegawaian dengan nama Human Capital Department atau yang semacam itu.

Di luar istilah-istilah “mentereng” itu masih tetap banyak perusahaan yang bertahan dengan sebutan-sebutan yang berasal dari negeri sendiri. Beberapa sebutan domestik antara lain Bagian Personalia, Biro Sumber Daya Manusia (SDM) dan Departemen Pengembangan SDM.

Baca juga: CaraBelajar Bahasa Indonesia Melalui Berita

Belum Menjadi Karyawan Sudah “Dihadang” Label Asing

Para pegawai perusahaan, terutama perusahaan besar, hampir pasti pernah mengikuti tahap-tahap perekrutan pegawai pada perusahaan masing-masing. Dalam proses itu, deretan istilah asing siap menyambut Anda sejak Anda berniat mendaftar untuk mengikuti seleksi calon pegawai.

Setelah lulus sekolah menengah atau perguruan tinggi, Anda mungkin segera mulai menelusuri halaman-halaman iklan job vacancy untuk mencari peluang kerja yang Anda inginkan. Alternatif lain yang bisa Anda tempuh adalah dengan mengunjungi job fair yang sering diselenggarakan oleh perusahaan besar atau Dinas Ketenagakerjaan.

Begitu memasuki arena ini, seakan-akan Anda berada dalam sebuah ajang pencarian pekerjaan di Negeri Paman Sam. Mata Anda  akan menemukan pelbagai jabatan layaknya di perusahaan-perusahaan asing.

Simak saja deretan jabatan yang sempat Anda amati. Mulai Customer Service hingga Marketing Manager. Dari posisi Junior Sales hingga Senior Trainer.

Jika Anda lolos screening administrasi awal, Anda akan mendapat undangan mengikuti proses recruitment—yang ini sudah diserap menjadi rekrutmen. Dalam perekrutan ini, Anda harus lolos beberapa tahapan untuk bisa mendapatkan offering letter, yakni surat penawaran menjadi pegawai.

Tahapan yang harus Anda lalui cukup banyak. Di antara tahapan-tahapan yang umum dilakukan perusahaan adalah psikotes—saya bersyukur sekali bisa menemukan istilah domestik ini--, job interview dan medical test.

Setelah menandatangani surat penawaran pekerjaan seperti yang telah saya sebutkan di atas, barulah Anda bisa menyebut diri Anda sebagai seorang pegawai. Eh, tapi harap bersabar, ya. Yang saya maksud dengan sebutan pegawai belum tentu pegawai tetap, bisa saja Anda harus mengikuti program outsourcing.

Sebelum benar-benar memasuki kancah dunia kerja, biasanya Anda diwajibkan mengikuti berbagai pelatihan. Ah, istilah pelatihan kedengarannya cukup asing, ya. Sebagian besar orang lebih suka menyebutnya training.

Dalam tahap ini, mungkin Anda harus masuk ke beberapa kelas sesuai tingkat pelatihannya, yakni basic, intermediate dan advance. Training juga terdiri dari bermacam-macam kategori. Ada training kategori technical knowledge, ada pula managerial knowledge.

Sekarang Waktunya Bekerja

Sudah kenyang “makan” istilah asing? Harap bersabar, Anda belum mulai bekerja, lho.

Dunia kerja yang Anda temui sehari-hari tak lepas dari maraknya parade istilah asing. Parade itu akan berlangsung sejak Anda menempelkan jari atau telapak tangan ke mesin absensi alias fingerprint pada pagi hari. Barangkali paradenya baru akan berakhir ketika Anda melakukan hal yang sama pada sore atau malam harinya.

Banyak perusahaan yang mengagendakan sesi motivasi pada pagi hari. Sebelum para pegawai menuju tempat kerja masing-masing, pimpinan akan mengumpulkan mereka di ruang tertentu. Adakalanya juga, acara ini diselenggarakan di luar ruangan atau yang beken dengan sebutan outdoor.

Banyak macam sebutan untuk menandai kegiatan ini. Ada yang menamainya motivation building, morning briefing, atau berbagai istilah lainnya. Mungkin juga masih ada yang setia dengan istilah apel pagi.

Dalam forum ini, biasanya pimpinan perusahaan menyampaikan program, arahan, atau statement-statement lainnya. Bisa juga sang manajer minta feedback dari para pegawai berkaitan dengan kebijakan-kebijakan perusahaan.

Sekeluar dari ruang pembakar semangat, para pegawai berhamburan ke tempat tugas masing-masing. Karyawan bagian administrasi menuju meja kerja atau cubical—saya berharap menemukan kata kubikel dalam KBBI, ternyata tidak--sesuai bidang kerjanya. Sementara itu para sales mungkin langsung tancap gas memburu calon customer atau client.

Ketika Evaluasi Kinerja Tiba

Dalam periode tertentu, para manajer atau supervisor akan melakukan evaluasi atas proses dan hasil kerja Anda dan karyawan-karyawan lainnya. Evaluasi bisa dilakukan secara harian, mingguan, bulanan, atau periode-periode lainnya.

Para penyelia (atau supervisor) membentangkan kertas atau membuka layar gawai. Memandangi angka-angka yang tertera dalam tabel atau garis-garis yang naik turun menghiasi grafik. Tabel dan grafik merupakan senjata andalan para pimpinan sebelum mulai angkat bicara.

Di dalam program evaluasi semacam ini, biasanya terjadi coaching atau counselling. Makanan apa pula ini?

Seulas penjelasan mengenai perbedaan antara coaching dan counselling saya temui di situs entrepreneur.com. Dalam sebuah artikelnya, situs ini menyebutkan bahwa perbedaan terbesar di antara kedua istilah tersebut terletak pada cara pendekatannya.

“The biggest difference in coaching and counselling is the difference in approaches. Life coaches focus on creating a new life path to achieve certain goals. They help you introspect and help you find your solutions. They focus on the now and what neat.”

“Whereas counselors focus on specific problems in hand and look into emotional resolutions to past problems to move forward, finding solutions to those specific problems, while making ‘healing’ as one of the main objectives.  One must be aware of the many areas of overlap between these above methods of seeking help.”

Di luar istilah coaching dan counselling, masih terdapat beberapa penyebutan lainnya untuk kegiatan-kegiatan yang hampir serupa.

Baca juga: SebenarnyaBruno Fernandes Itu Pemain MU atau Bukan, Sih?

Masa Karyawan Senang dan Bagian Personalia Sibuk

Saat yang ditunggu-tunggu para karyawan pun datang. Waktunya bisa berbeda-beda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya.

Biasanya pada masa-masa ini, karyawan senang dan Bagian Personalia sibuk. Apalagi kalau bukan hari penerimaan gaji?

Kita masih bisa bersenang hati dalam hal ini. Dalam obrolan sehari-hari, sepertinya kata gajian lebih mengena di hati ketimbang salary-an. Salary-an?

Umumnya, wajah para pegawai tampak semringah pada hari-H gajian. Kecuali yang sudah terlalu banyak menyimpan pos cicilan sehingga take home pay tak cukup membuat hati lega.

Demikian banyak istilah asing nyaris mendominasi dunia kerja di perkantoran. Serbuan “pasukan asing” itu mungkin baru akan mereda saat kita melepas atribut kepegawaian kita.

Ada dua kemungkinan kita mengakhiri masa kerja pada suatu perusahaan. Yang pertama melalui jalur pensiun ketika usia telah mencapai batas maksimal bekerja. Jalur kedua adalah resign, yakni keluar dari pekerjaan sebelum mencapai usia pensiun.

Terjadi dua fenomena yang berbeda pada kedua jalur itu. Pada jalur pertama, kata pensiun jamak digunakan. Saya hampir tak pernah menemukan ungkapan pension dalam pembicaraan sehari-hari.

Apakah karena penulisan dan pengucapan katanya tak jauh berbeda sehingga penggunaan istilah asing di sini tidak menimbulkan sensasi lebih besar? Entahlah.

Lain halnya yang terjadi pada jalur kedua. Istilah resign jelas lebih menggema ketimbang mengundurkan diri. Bisa jadi faktor singkatnya kata yang menjadi pertimbangannya. Atau barangkali ada faktor lain yang lebih menentukan?

Share:

0 komentar

Antara Porter di Bandara dan Kuli Panggul di Pasar

  Pernah menggunakan jasa porter di bandara? Adakah hubungannya dengan simbok-simbok yang menggendong tenggok di pasar-pasar tradisional? ...