Sulitnya Mengganti Kata “Chatting” dalam Bahasa Indonesia


Dalam komunikasi masa kini, istilah “chatting” nyaris selalu hadir di tengah obrolan kita. Rasanya sulit mengganti kata “chatting” dalam bahasa Indonesia.

Entah kenapa saya suka terusik dengan tulisan-tulisan yang bertabur istilah asing. Apalagi kalau bicara masalah yang berkaitan dengan dunia teknologi tinggi.

Kata “chatting” tentu sangat akrab dengan hampir setiap orang yang hidup pada zaman internet ini. Hal ini memang sejalan dengan perkembangan teknologi tinggi yang semakin mendominasi kehidupan manusia.

Masa pandemi virus Covid-19 turut menyuburkan penggunaan teknologi tinggi untuk berbagai keperluan hidup manusia. Kini hampir tiada sendi kehidupan yang tidak berhubungan dengan urusan teknologi.

Orang bekerja membutuhkan teknologi. Work from home alias bekerja dari rumah semakin menguatkan peran teknologi tinggi dalam menyelesaikan pekerjaan. Komunikasi dan pengiriman data atau laporan jarak jauh menjadi satu hal yang amat menentukan.

Bukan hanya orang dewasa yang harus berhubungan dengan teknologi. Kini anak-anak sekolah juga harus berjibaku dengan aktivitas-aktivitas menggunakan sarana teknologi tinggi.

Kabar-kabar mengenai pelbagai kesulitan anak didik mengakses materi pelajaran banyak terekspos. Ada siswa yang “berburu” sinyal hingga harus belajar di tepi jalan. Bahkan ada yang sampai harus memanjat pohon demi menggapai sinyal yang langka di daerah mereka.

Orangtua pun tak kalah sibuknya. Mereka mesti nyari-nyari telepon seluler seken dan menyediakan kuota internetnya. Ada pula berita miris orangtua yang kehabisan akal menyediakan sarana belajar daring bagi anaknya hingga mengambil ponsel yang bukan miliknya.

Melejitnya Istilah “Chatting

Perkembangan istilah “chatting” tak lepas dari berkibarnya sebuah aplikasi percakapan daring bernama WhatsApp. Diakui atau tidak, program ini berperan amat besar me-massal-kan penggunaan kata ini dalam percakapan sehari-hari.

Sebetulnya istilah ini telah beredar jauh sebelum kelahiran WhatsApp. Istilah-istilah khusus yang semakna dengan kata “chatting” berubah-ubah mengikuti perkembangan aplikasi untuk nge-chat.

Pada awal munculnya alat komunikasi berbasis internet, orang biasa mengucap "SMS-an" sebagai ungkapan praktis kegiatan berkomunikasi menggunakan program Short Message Service (SMS). Tahap berikutnya, Black Berry Messenger (BBM) merajalela hingga istilah "BBM-an" menenggelamkan “manusia kolot” yang masih setia ber-SMS ria.

Tak lama kemudian era WhatsApp hadir menggantikan zaman BBM yang tak bertahan lama. Aplikasi ini dimulai pada 24 Februari 2009 ketika Jan Koum dan Alex Fishman mendirikan perusahaan WhatsApp Inc di California seperti diberitakan antara lain oleh kompas.com.

Hingga kini "WhatsApp-an" atau "WA-an" (banyak juga yang bilang "WA-nan") menjadi istilah sangat populer disamping istilah “chatting” itu sendiri. Maklum, jumlah penggunanya mencapai lebih dari 2 milyar orang yang tersebar di 180 negara di seluruh penjuru bumi.

Belum lagi dihitung jenis-jenis media sosial lainnya yang juga menyediakan sarana obrolan daring alias online chatting.

Baca juga: Mencari Hikmah di Balik “Musibah”, Sebuah Catatan Kelahiran Blog “Ulas Bahasa”

“Chatting” Masuk ke dalam Bahasa Indonesia?

“Kamus Lengkap Inggris-Indonesia Indonesia-Inggris”, memberikan dua makna bagi kata “chat”. Pertama, mengobrol dengan contoh penggunaannya dalam kalimat “We chatted about football.” Kedua, bercakap-cakap (dalam dunia maya) dan contoh kalimatnya adalah “I like to chat on the internet.”

Kedua makna itu berkonotasi hampir sama, yakni mengobrol atau bercakap-cakap atau berbincang-bincang. Namun dalam penjelasan makna yang kedua lebih ditekankan bahwa aktivitas “chat” dilakukan dalam dunia maya.

Secara sederhana, sebetulnya kita bisa menggunakan kata-kata yang sudah jelas merupakan bagian dari bahasa Indonesia seperti “mengobrol”, “bercakap-cakap” atau “berbincang-bincang”. Namun sepertinya kata “chatting” masih lebih digdaya dan digemari banyak orang Indonesia.

Yang jelas, sejauh ini kata “chat” tidak terdaftar dalam KBBI. Berarti Kementerian yang mengurusi pengembangan bahasa Indonesia itu belum mengakui kata ini sebagai bagian resmi dari bahasa Indonesia yang kita cintai.

Di lain pihak, kata “mengobrol” sudah sangat mewakili kata “chatting” dilihat dari maknanya. Menilik KBBI Daring, kata “mengobrol” memiliki dua makna, yakni:

1. bercakap-cakap atau berbincang-bincang secara santai tanpa pokok pembicaraan tertentu

2. bertukar pesan dalam waktu nyata dengan pengguna komputer lain

Jadi, istilah “mengobrol” bisa digunakan untuk menyatakan sebuak kegiatan bercakap-cakap baik yang dilakukan secara luring maupun daring.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebanyakan orang suka menyingkat istilah-istilah baku dengan kata-kata yang lebih pendek dan praktis. Nah, kata “mengobrol” yang baku terasa ganjil bila disampaikan dalam sebuah percakapan. Kata ini biasanya dipendekkan menjadi “ngobrol”. 

Meskipun bukan sebuah kata baku dalam bahasa Indonesia, setidaknya ia terdengar lebih Indonesia ketimbang kata “chat”.

Tulisan ini tidak bermaksud menyatakan bahwa saya anti istilah asing. Sengaja atau tidak sengaja, saya tetap menggunakan kata-kata yang berasal dari bahasa asing dalam pembicaraan lisan maupun tulisan. Saya hanya berusaha untuk tidak menggunakannya secara berlebihan, terutama istilah-istilah yang telah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Kalau bukan kita yang mencintai bahasa yang kita gunakan sehari-hari di negeri ini, lantas siapa lagi?

Share:

1 komentar

  1. Udah biasa ngomong 'chatting'. Kalau pake bahasa indonesja jadi aneh aja gitu hahaha

    BalasHapus

3 Manfaat Menulis Kosakata Langka

  Saya mendapatkan setidaknya 3 manfaat menulis kosakata langka. Menorehkan sejumlah kosakata yang jarang mengemuka telah menimbulkan sensas...