Hikmah di Balik Musibah: Kelahiran Blog Ulas Bahasa - Ulas Bahasa -->

Hikmah di Balik Musibah: Kelahiran Blog Ulas Bahasa

2 comments

Seusai dilanda keraguan, saya kembali meyakini kalimat sakti “Selalu ada hikmah di balik musibah.” Pengalaman mendorong saya meyakininya.

ilustrasi keyboard alias papan ketik
Ilustrasi orang sedang bermain komputer. Sumber gambar: Free Photos dari Pixabay.

Kisah bermula kala saya terdorong hendak membangun sebuah media sebagai wadah untuk menampung kegelisahan dan pikiran-pikiran saya. Saat itu blog menjadi pilihan saya, sedangkan saya tak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai blog dan seluk-beluknya.

Saya pun mencari sumber-sumber pengetahuan dalam pelbagai wujudnya. Salah satunya, kursus daring yang beredar di dunia maya.

Antusias sekali saya menyambut sebuah pelatihan bertajuk “Kelas Menulis Blog”. Kelas ini memang telah cukup lama saya nanti-nantikan.

Dua bulan mengelola blog nyaris sepenuhnya seorang diri, ternyata mulai mendatangkan rasa pusing di kepala. Penguasaan teknis dan optimasi nge-blog yang minim menjadikan blog yang saya kelola “begitu-begitu saja”.

Maka, begitu menemukan penawaran kelas menulis blog seperti yang saya sebutkan di atas, saya langsung mendaftarkan diri. Dan saya agak kurang sabar menantikan dimulainya kelas yang baru dibuka sekira seminggu usai saya diterima sebagai salah satu peserta.

Hari pertama, kelas ini berjalan lancar. Pembahasan bertema “menentukan topik” cukup membantu mempertahankan keyakinan diri saya untuk melanjutkan topik blog yang baru saya rintis sekira dua bulan sebelumnya.

Keyakinan Mulai Goyah

Keyakinan saya mulai goyah dan nyaris ambruk ketika kelas memasuki hari kedua. Pada hari itu, admin mulai membahas urusan teknis.

Contoh rancangan (layout) blog pun ditampilkan. Sang admin kemudian minta para peserta “memelototi” blog masing-masing.

Pada titik inilah saya mulai merasakan kebimbangan. Tampilan blog saya jauh berbeda dengan yang ditayangkan admin di grup Whatsapp kelas ini.

Saya mulai bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah saya telah tersesat dengan memasuki kelas ini?

Rasanya pertanyaan saya semakin tersingkap beberapa saat kemudian. Seorang peserta menanyakan perihal sebuah platform yang belum dibahas di grup ini.

Saya menduga si peserta menggunakan platform yang ditanyakannya itu sebagai basis pembuatan blog-nya. Sungguh menarik pertanyaan ini karena hati saya pun menanyakan hal yang sama. Platform yang saya gunakan sama dengan platform si penanya.

Rasa kecewa saya menjadi paripurna ketika admin memberikan jawaban yang tidak saya harapkan. Sesuai penjelasannya, kelas ini dikhususkan untuk membahas sebuah platform yang berbeda dengan yang saya gunakan, seperti yang telah diungkapnya.

Obrolan (chat) dengan admin saat proses pendaftaran kembali saya buka. Di sana tercantum salah satu tema bahasan yang membuat ketersesatan saya makin kentara. “Mengubah Blogspot menjadi domain?”

Jadi, semua ini terjadi karena kekeliruan saya sendiri. Saya kurang teliti membaca penjelasan tentang cakupan materi yang akan dibahas dalam kelas ini.

Mencari Hikmah di Balik “Musibah”

“Selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa.”

Saya tidak begitu ingat, siapakah pencetus awal ucapan ini. Saya hanya mengingat bahwa ia telah menjelma sebagai sebuah kalimat yang sangat saya andalkan dalam situasi kecewa ketika mendapati sebuah kenyataan yang tidak sesuai dengan yang saya harapkan.

Kali ini pun saya berharap banyak pada “tuah”-nya. Sekalipun sempat membikin kecewa, saya tetap meyakini bahwa kelas ini akan mendatangkan faedah bagi perkembangan kemampuan dan gairah nge-blog saya.

Kalimat yang disitir admin pada pembukaan kelas juga ikut menambah motivasi saya. Sang admin melontarkan sebuah ungkapan dari Thariq bin Ziyad.

“Barangsiapa bersabar dengan kesusahan yang sebentar saja, maka ia akan menikmati kesenangan yang panjang.”

Semoga saya bisa bersabar menjalani “kesusahan” selama beberapa hari mengikuti kelas ini. Harapan saya tentu saja kelak akan menikmati kesenangan yang panjang nge-blog menggunakan pelbagai platform dengan keunggulan dan kekurangan masing-masing.

Sampul depan buku Blogspot dan Wordpress Komplet karya Jubilee Enterprise mencantumkan sub judul “Nge-Blog Semakin Seru Kalau Pakai Blogspot dan Wordpress Sekaligus” turut menaikkan semangat saya. Dalam kata pengantar buku yang sama, Gregorius Agung mengungkapkan tidak tertutupnya kemungkinan seseorang menggunakan kedua platform itu agar aktivitas blogging menjadi lebih seru.

“Semoga buku ini bermanfaat dan Anda bisa mulai nge-blog untuk meramaikan jagad internet di nusantara ini!” Begitu kata Gregorius Agung, sang penemu (founder) Jubilee Enterprise.

Beberapa kalimat yang memotivasi tersebut akhirnya mampu membawa saya untuk tetap optimis melanjutkan kelas menulis blog ini. Tentu niat itu saya wujudkan dengan membuat blog baru menggunakan program yang sesuai dengan materi yang diajarkan di kelas ini.

Ajang Belajar Bahasa

Satu hal yang dianjurkan pengajar pada bab “topik” adalah agar kita memilih topik blog yang kita minati. Penetapan topik sesuai minat biasanya membuat seorang blogger konsisten sehingga blog yang dikelolanya bisa bertahan lama.

Atas anjuran itu, saya segera menetapkan “bahasa” sebagai topik utama blog baru saya. Setelah sekian kali utak-atik, jadilah “ulas bahasa” sebagai judul blog saya.

Saya meyakini bahwa gabungan kata ulas dan bahasa dapat mewakili konten-konten yang bakal tersaji dalam media ini.

Arti kata ulas bisa bermacam-macam. Dalam hal ini, saya memilih makna ‘memberikan penjelasan dan komentar’ (untuk hal-hal yang saya ketahui), ‘menafsirkan’ (dengan dukungan sumber-sumber referensi yang dapat dipercaya), dan terutama ‘mempelajari’ (karena banyak urusan bahasa yang belum saya pahami).

Sementara itu, kata bahasa memiliki beragam makna juga. Saya cenderung “meminjam” kosakata bahasa yang berfungsi sebagai suatu sarana komunikasi antarmanusia.

Jadi, dengan modal blog yang menyandang nama “Ulas Bahasa” di tangan, saya berangan-angan bisa “berbincang-bincang” dan banyak belajar tentang permasalahan bahasa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Pelajaran Pertama: Mencari Jagad dalam Bahasa Indonesia

Tak perlu berpanjang kata, mari kita mulai belajar di blog yang “tak direncanakan” ini.

Karena blog ini membahas bahasa, alangkah baiknya dalam setiap artikel yang nongol ada kaitannya dengan bahasa. Seusai melakukan pencarian, saya menemukan sebuah kata dalam artikel ini yang patut dicerna.

Kita akan kembali scrolling kursor ke atas. Kata “jagad” dalam petikan kalimat Gregorius Agung yang saya sitir di atas tidak saya temukan dalam KBBI Daring milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kamus besar ini langsung memasang tanda seru dan memberikan peringatan melalui tulisan berwarna merah ketika saya menyodorkan “jagad” untuk dicarikan maknanya. “Entri tidak ditemukan,” katanya.

Dalam proses pencarian selanjutnya, saya berhasil menemukan sebuah kata yang sangat mendekati kata dimaksud, yakni “jagat”. Saya pikir kata terakhir ini seharusnya digunakan untuk menggantikan kata “jagad”.

Pada penelusuran berikutnya, saya menemukan bahwa kata “jagad” merupakan salah satu bentuk kata tidak baku yang sering digunakan penutur bahasa Indonesia. Menurut wikipedia, kata “jagat” diserap dari bahasa Sanskerta dengan penulisan yang persis sama.

Demikian akhir kisah terbentuknya blog "ulas bahasa", dengan artikel tentang hikmah ini sebagai pembukanya. Berbekal dua blog dengan platform yang berbeda, saya berharap suatu saat nanti bisa turut meramaikan jagat internet nusantara.

Memang, kebaikan bisa muncul dari sudut-sudut yang tak terduga. Bahkan, di balik musibah ada hikmah yang dapat kita temukan.

Newer Oldest

Artikel Terkait

2 comments

Post a Comment