Mengapa Orang Keranjingan Mengucapkan Kata “Dirgahayu”?

 

Mengapa Orang Keranjingan Mengucapkan Kata “Dirgahayu”?

Bulan Agustus merupakan bulan naik daunnya kata “dirgahayu”. Dan hari Senin, tanggal 17 Agustus 2020 ini merupakan puncak berseraknya kata ini.

Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, kata “dirgahayu” berasal dari bahasa Sanskerta. Kata ini bermakna “panjang umur” atau “berumur panjang”.

Maka tak heran bila kata ini selalu merajalela setiap datang bulan Agustus. Melalui kata ini, banyak orang dan lembaga atau instansi mengungkapkan harapan mereka agar negara Republik Indonesia panjang usia.

Terkait dengan hal ini, sering timbul pertanyaan dalam hati saya. Mengapa orang lebih suka menggunakan kata “dirgahayu” untuk mendoakan negara kita yang sedang berulang tahun? Mengapa hampir tak pernah saya menemukan ungkapan lainnya semacam “semoga panjang umur” misalnya?

Sebaliknya, ketika menjumpai kerabat atau teman yang berulang tahun, orang lebih senang menggunakan ungkapan “semoga panjang umur”? Mengapa nyaris tak pernah muncul kata “dirgahayu”? Apakah istilah “dirgahayu” sengaja diciptakan untuk mendoakan negara kita tercinta?

Sudah cukup lama sebenarnya pertanyaan ini bergelayut dalam benak saya. Namun karena bukan sesuatu yang patut dipikirkan secara mendalam, saya biarkan saja pertanyaan itu tersimpan rapi di dalam hati.

Mungkin suatu saat akan muncul sendiri jawabnya. Atau mungkin pula tidak.

Dalam KBBI Daring, sepertinya kata “dirgahayu” memiliki makna khusus. Kamus itu mengartikan kata ini sebagai berikut:

Berumur panjang (biasanya ditujukan kepada negara atau organisasi yang sedang memperingati hari jadinya).”

Makna dasarnya serupa, yakni “berumur panjang”. Namun KBBI menambahkan keterangan bahwa kata ini biasanya ditujukan kepada negara atau organisasi yang sedang memperingati hari jadinya. KBBI memberi contoh “panjang umur Republik Indonesia”.

Baca juga: Bagaimana Cara Memperbaiki Kalimat yang Sepanjang Kereta Api?

Duluan Masyarakat atau KBBI dalam Memaknai Kata Dirgahayu?

Bisa saja kemudian timbul semacam pertanyaan klasik, “Duluan ayam atau telur?” Dalam konteks ini, kondisi mana yang lebih dulu muncul? Kebiasaan orang menggunakan kata “dirgahayu” atau KBBI memberi makna kata “dirgahayu”?

Barangkali yang duluan nongol adalah kebiasaan orang menggunakan kata “dirgahayu” saat negara berulang tahun, lalu KBBI menggunakan kebiasaan ini untuk memaknai kata “dirgahayu”. Atau sebaliknya, KBBI memberi makna kata “dirgahayu” sedemikian rupa sehingga membuat banyak orang mempraktikkan ucapan mereka sesuai “titah” KBBI.

Saya kira salah satu kata kuncinya adalah kata “biasanya” dalam keterangan yang disampaikan oleh KBBI. Menurut KBBI sendiri, kata “biasanya” berarti “menurut apa yang sudah dilazimkan” atau “lazimnya”.

Bila suatu kegiatan dilakukan menurut apa yang sudah dilazimkan, mestinya kegiatan itu sudah sering dijalankan. Dengan menghubungkan kedua pernyataan itu, bisa disimpulkan bahwa penggunaan kata “dirgahayu” dalam ucapan bernada doa bagi negara (Republik Indonesia) telah menjadi kebiasaan dalam masyarakat.

Jika demikian, akan timbul pertanyaan lanjutan, “Mengapa orang-orang dan lembaga-lembaga itu menggunakan istilah “dirgahayu” bukan yang lain?

Saya belum berhasil menemukan penjelasan mengenai hal ini. Saya hanya menduga bahwa “ramai-ramai” penggunaan kata “dirgahayu” semasa peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia semata-mata karena kebiasaan mengikuti apa yang telah dilakukan orang sebelumnya.

Jadi, duluan ayam atau telur?

Share:

0 komentar

3 Manfaat Menulis Kosakata Langka

  Saya mendapatkan setidaknya 3 manfaat menulis kosakata langka. Menorehkan sejumlah kosakata yang jarang mengemuka telah menimbulkan sensas...